Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lahan Salak di Karangasem Beralih Jadi Sawah dan Bangunan, Ini yang Dikhawatirkan Petani

I Wayan Adi Prabawa • Sabtu, 23 Maret 2024 | 23:27 WIB

 

Lahan di Karangasem yang sebelumnya ditanami salak ini telah menjadi sawah.
Lahan di Karangasem yang sebelumnya ditanami salak ini telah menjadi sawah.

KARANGASEM, BALI EXPRESS – Kabupaten Karangasem, Bali sangat dikenal dengan wilayah penghasil salak.

Desa Sibetan di Kecamatan Bebandem dan beberapa wilayah di Kecamatan Selat menjadi sentra kebun salak.

Namun belakangan, disebut ada sejumlah lahan yang dialih fungsikan dari kebun salak menjadi tanaman lainnya.

Kondisi ini pun disayangkan salah satu petani di Banjar Dinas Karanganyar, Desa Sibetan I Nyoman Mastra.

Dengan situasi seperti ini, dirinya khawatir produksi salak di sana menjadi punah.

“Karena dengan adanya alih fungsi ini membuat produksi salak menjadi berkurang,” paparnya, Sabtu, 23 Maret 2024.

Dikatakannya, tidak hanya alih tanam, tetapi ada pula yang merubah lahan tersebut menjadi bangunan.

Sehingga ia berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Karangasem terkait dengan hal ini.

Karena menurutnya salak tidak bisa ditanam di sembarang tempat.

Menurut Mastra, petani yang mengalihfungsikan lahannya dari salak menjadi yang lain karena faktor harga yang didapat ketika musim panen.

Saat panen, harga salak mengalami penurunan, sehingga pendapatan para petani menjadi berkurang.

“Mungkin bisa dicarikan solusi untuk pemasaran supaya harga salak saat musim panen bisa bertahan,” harapnya.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Karangasem I Nyoman Siki Ngurah menyebut luas lahan yang ditanami salak pada tahun 2023 adalah 4.188 hektare.

Luas tersebut bisa menghasilkan 240.608 kwintal salak, dengan rata-rata satu pohon 4,2 kg.

Terkait dengan alih fungsi lahan ini, pihaknya menyambut baik apabila diubah menjadi lahan persawahan lain, seperti ditanami padi atau lainnya.

“Kalau di Selat dari salak menjadi sawah kan bagus, untuk mendukung pangan. Kalau untuk fokus melestarikan itu ada di Sibetan. Kalau dari fungsi salak ke sawah, begitu pun sebaliknya masih dalam fungsi pertanian,” jelasnya.

Sedangkan jika lahan tersebut ditanami beton, maka tegas Siki, itu bukan berada di ranah pihaknya.

“Saya yang ditugaskan di bidang pertanian akan bertanggung jawab sebaik-baiknya bagaimana pohon salak itu tetap ada dan tetap tumbuh dengan baik,” tegasnya. (*)

Editor : I Made Mertawan
#salak #bali #karangasem