BANGLI, BALI EXPRESS- Keberadaan ikan red devil di Danau Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali bisa dibilang bikin resah mereka yang mengais rezeki di sana.
Mereka berharap agar red devil ini bisa dikendalikan. Sebab jumlahnya semakin banyak di Danau Batur.
Red devil yang dikenal sebagai predator ini mengancam keberadaan ikan yang memang sejak dulu berada di Danau Batur.
Dalam focus group discussion (FGD) yang difasilitasi Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Selasa, 26 Maret 2024, terungkap bahwa red devil sudah sangat banyak di Danau Batur.
Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Bangli I Wayan Sarma menyatakan bahwa red devil bukan habitat Danau Batur.
Namun sudah berkembang biak di sana sejak beberapa tahun lalu. Ikan ini tergolong invasif.
Sehingga ada kekhawatiran 17 jenis ikan di Danau Batur secara perlahan akan punah.
Sarma mengakui bahwa nelayan mengeluhkan keberadaan ikan ini. Sebab saat mereka menangkap ikan, sekitar 60 hingga 90 persennya adalah red devil.
Nelayan tidak senang mendapatkan red devil karena tidak laku dijual. Itu diperkirakan karena untuk mengolahnya sangat sulit. “Hasil FGD sepakat red devil musuh bersama harus segera ditangani,” jelas Sarma.
Lebih lanjut dikatakan Sarma, berdasarkan hasil FGD disepakati bahwa penanganan jangka pendek yang bisa dilakukan adalah pemerintah akan menggalang donatur untuk membeli red devil hasil tangkapan nelayan.
Upaya berikutnya yakni memfasilitasi kerja sama nelayan dengan unit pengolahan ikan di Kabupaten Jembrana.
Katanya, di kabupaten ujung barat Pulau Bali itu terdapat unit usaha yang mengolah ikan jadi tepung untuk pakan ternak.
Solusi lainnya memperbanyak kelompok yang bisa mengolah red devil menjadi berbagai jenis kuliner.
Sejauh ini baru ada dua kelompok di Bangli yang aktif mengolah red devil untuk dijadikan keripik. (*)
Editor : I Made Mertawan