Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Heboh Batal Tampilnya Gong Kebyar Legendaris di HUT Singaraja, Ini Klarifikasi Vokalis Ada Band Indra Sinaga

Dian Suryantini • Selasa, 2 April 2024 | 14:10 WIB
Indra Sinaga
Indra Sinaga

SINGARAJA, BALI EXPRESS – Tanggapan terhadap penampilan Gong Legendaris dari Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng dan Banjar Paketan, Buleleng, Bali, yang batal tampil semakin liar. Komentar di media sosial pun bergulir tidak karuan.

Tidak sedikit pula komentar yang dilontarkan terhadap Indra Sinaga, vokalis band ibu kota – Ada Band.

Akun Facebook Indra Sinaga saat tampil di acara HUT Kota Singaraja juga tak luput dari kekesalan netizen.

Melalui akun pribadinya Indra Sinaga membuat klarifikasi.

Klarifikasi itu diunggah Senin (1/4) malam. Ia dan tim menyampaikan permohonan maaf bila penampilan Ada Band kurang berkenan saat HUT Kota Singaraja ke-420.

Dirinya juga menyampaikan bahwa penampilan Ada Band tidak pernah menyela penampilan pengisi acara lainnya. Justru penampilan mereka molor dua jam dari jadwal.

Berikut klarifikasi lengkapnya:

Om swastiastu teman teman di Singaraja Buleleng Bali.

Ada Band tidak pernah meminta untuk menyela tampil lebih dulu dari teman teman pengisi acara yang lain di panggung HUT Singaraja ke 420 kemarin.

Bahkan kami tampil setelah mundur hampir dua jam dari jadwal seharusnya.

Kami tampil pukul 23.00 WITA dari jadwal yang seharusnya pukul 21.10  WITA.

Baca Juga: Buntut Batalnya Gong Legendaris Tampil di HUT Singaraja, Seniman Tradisi Buleleng Kecewa, Dewan: Bukan hanya Kata Maaf

Tidak sedikit pun dari pihak Ada band tidak menghargai seniman budaya Singaraja seperti yang dituduhkan beberapa netizen kepada kami, justru sebagai sesama seniman kami sangat mendukung kelestarian budaya tradisional sebagai identitas kita bangsa Indonesia yang beraneka ragam.

Mohon maaf bila ada teman teman di Singaraja yang kurang berkenan, semoga seniman dan budaya tradisional Singaraja semakin lestari.

Kami pun mengucapkan terima kasih sebesar besarnya atas sambutan hangat teman teman di Singaraja.

Matur Suksma.

Demikian yang ditulis pria kelahiran 10 Juli 1983 itu. Unggahan itu menuai beragam komentar pula. Tidak sedikit juga warga Buleleng yang berkomentar.

“Netizen nya aja yg blm faham barangkali Bang Indra Sinaga. Dari panitia atau penyelenggara event lah yg harus klarifikasi,” tulis @Usman S*********

“Kalau menurut saya ini bukan kesalahan dari pengisi acara, tapi ini kesalahan dari panitia yang kurang mampu membuat atau menata acaranya,” sambung @Yudha Y****.

“Tenang bang, kami warga singaraja justru sangat senang karena abang senantiasa ikut serta memeriahkan hut kota singaraja..selain panitianya yg mungkin salah teknis atau waktu berputar begitu cepat,,karena belakangan ini waktu cepat bgt berputar tiba tiba pagi tiba tiba siang tiba tiba malam..tiba tiba bayar cicilan,,semoga kedepan hut singaraja bisa lebih baik dan tidak melupakan seni budaya lagi,” kata @Dewa A** R**** D**** member dukungan.

“Musisi tidak salah. Dan itupun kalau tidak ada perintah untuk perform. Tidak mungkin musisi itu tampil dgn sendirinya. Semua pengisi acara tentu akan mengikuti aturan timer untuk perform,” sambut @Bali K****** E********.

Wanita Penari Bali Marah-marah karena Pertunjukan Gong Legendaris Mebarung Batal di Penutupan HUT Kota Singaraja ke-420

Dalam penutupan HUT Kota Singaraja ke-420, suasana kecewa melanda dua sekaa gong legendaris, kebanggaan Buleleng, saat mereka gagal tampil karena perubahan jadwal mendadak.

Kejadian ini memicu reaksi marah dari seorang wanita penari Bali yang merasa pertunjukan seni tradisional seharusnya mendapatkan ruang yang lebih khusus.

Dua sekaa gong legendaris yang terkenal, yakni Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya dari Kelurahan Banjar Paketan, Singaraja, dan Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma dari Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng, diharapkan tampil dalam acara tersebut.

Namun, perubahan jadwal yang tidak terduga membuat mereka harus pulang tanpa dapat mempersembahkan pertunjukan mereka.

Kadek Pasca Wirsuta, Pembina Sekaa Gong Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan, mengekspresikan kekecewaannya terhadap penggabungan pertunjukan tradisional dengan acara modern.

Ia menyoroti perlunya ruang khusus untuk seni tradisional Bali guna menjaga keindahan dan keutuhan budaya tersebut.

Sementara itu, kekecewaan juga dirasakan oleh Sekaa Gong Legendaris Jaya Kusuma Jagaraga.

Mereka merasa tidak dihargai dan tidak diprioritaskan dalam perubahan jadwal yang terus-menerus hingga saat-saat terakhir.

Nyoman Arya Suryawan, Klian Sekaa Gong Legendaris Desa Jagaraga, menyatakan ketidakpuasannya atas perlakuan tersebut.

Para seniman tradisi ini berharap agar pertunjukan seni tradisional diberikan ruang khusus dan tidak digabungkan dengan hiburan modern seperti band.

Mereka juga mengkritisi tata panggung yang tidak memperlihatkan dengan baik pertunjukan mereka, memunculkan rasa kecewa dan merasa tidak dihargai.

Harapan mereka adalah agar kesenian tradisional Bali tetap dijaga dan diberikan tempat yang layak dalam setiap acara, tanpa harus tersaingi oleh hiburan modern. *** 

 

 
 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #gong legendaris #ada band #hut kota singaraja #klarifikasi #indra sinaga #buleleng