Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

UNIK! Masjid Jami Safinatussalam di Desa Pegayaman Bali Punya Atap Tumpang Mirip Relief Candi Sukuh: Baru Tahu Ini Filosofinya

Dian Suryantini • Minggu, 14 April 2024 | 18:10 WIB
ATAP TUMPANG: Masjid Jami Safinatussalam di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali memiliki atap tumpang mirip dengan relief di Candi Sukuh.
ATAP TUMPANG: Masjid Jami Safinatussalam di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali memiliki atap tumpang mirip dengan relief di Candi Sukuh.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Masjid Jami Safinatussalam yang terletak di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng merupakan simbol keberadaan umat Islam di wilayah Pegayaman yang kaya akan sejarah dan perjuangan.

Masjid Jami Safinatussalam diperkirakan berdiri sekitar tahun 1650 M, dua tahun setelah kedatangan umat Islam di Pegayaman pada tahun 1648 M.

Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat.

Masjid ini berada di tengah-tengah desa dan menjadi masjid satu-satunya yang dimiliki Desa Pegayaman.

Walau tergolong masjid kuno, masjid itu telah berulang kali mengalami perbaikan.

Pertama kali direnovasi pada tahun pembangunan 1940 dengan fokus pada menaranya.

Renovasi kedua dilakukan pada tahun 1985 dengan rehabilitasi total.

Renovasi terbaru dilaksanakan pada tahun 2020, dengan fokus pada pembaruan berat.

Namun hingga kini, proses pembangunan masjid tersebut belum benar-benar rampung.

Kendati telah mengalami banyak perbaikan, pengurus masjid masih tetap mempertahankan identitas asli masjid tersebut. Salah satunya adalah atap tumpang.

Atap tumpang adalah arsitektur masjid masa klasik. Masjid dengan atap tumpang juga ditemukan di relief Candi Sukuh yang ada pada masa Kerajaan Demak , yaitu kerajaan Islam pertama di Jawa.

Candi Sukuh merupakan sebuah struktur candi dengan gaya arsitektur Hindu yang berasal dari masa akhir Kerajaan Majapahit.

Candi ini terletak di lereng Gunung Lawu di wilayah administratif Dusun Sukuh, Desa Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah.

Konon atap tumpang pada masjid-masjid kuno memiliki filosofi Gunung Suci Mahameru yang terdiri dari tingkat tiga atau Triloka.

Ulama Besar Buya Hamka juga berpendapat bahwa atap tumpang masjid kuno melambangkan syari’ah, thariqat dan ma'rifat.

Tokoh Islam Desa Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto mengatakan, Desa Pegayaman memiliki catatan panjang dalam dinamika perkembangan umat Islam di Bali Utara.

Keberadaan Masjid Jami' Safinatussalam tidak bisa dipisahkan dari sejarah Desa Pegayaman dan peran serta umat Islam dalam dinamika politik dan keagamaan di wilayah tersebut.

Sejak awal, masjid ini telah menjadi tempat sentral bagi umat Islam Pegayaman dalam menjalankan ibadah berjamaah serta kegiatan keagamaan lainnya.

“Masjid Jami' Safinatussalam Desa Pegayaman mencerminkan perjalanan umat Islam di wilayah ini yang menjadi simbol keberadaan dan kekuatan komunitas muslim di Bali Utara,” ujarnya belum lama ini.

Jati diri Pegayaman ada pada satu masjid dalam satu desa, yaitu Masjid Jami' Safinatussalam Desa Pegayaman.

Artinya, penduduk Desa Pegayaman merupakan keturunan asli dari para prajurit Blambangan yang diutus menetap di wilayah perbukitan pada masa Raja Ki Barak Panji Sakti.

Saat para prajurit menduduki wilayah itu, sudah dapat dipastikan wilayah yang dahulu disebut Pegatepan (lantaran banyak pohon gatep/gayam) menjadi milik hak prajurit-prajurit, yang menjadi benteng luar Kerajaan Buleleng pada masa Ki Barak Panji.

“Umat Islam dimanapun berada, selalu dan harus membuat tempat sholat berjamaah, apalagi yang menetap dalam jumlah yang banyak (komunitas)," jelasnya.

"Para kesatria Pegayaman dari Blambangan adalah pemegang agama Islam yang fanatik dan ketat dalam menjalankan perintah agama dan menghindari segala larangannya,” lanjut Suharto. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#atap #bali #Masjid Jami Safinatussalam #Relief #pegayaman #desa #Candi Sukuh #tumpang