Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Gelatik Buleleng Bali: Diciptakan Tahun 1981, Ada Pesan Mendalam dari sang Maestro

Dian Suryantini • Minggu, 21 April 2024 | 18:15 WIB
TARI GELATIK: Tari Gelatik yang dibawakan para wanita diiringi tabuh dari Sekee Gong Legendaris Eka Wakya, Banjar Paketan sarat dengan pesan.
TARI GELATIK: Tari Gelatik yang dibawakan para wanita diiringi tabuh dari Sekee Gong Legendaris Eka Wakya, Banjar Paketan sarat dengan pesan.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pada tahun 1981 dua maestro seni Bali Utara, yaitu I Nyoman Arcana dan I Nyoman Mudana menciptakan sebuah tarian.

I Nyoman Arcana berperan sebagai penata tari sedangkan I Nyoman Mudana sebagai penata tabuh.

Tarian ini awalnya diberi nama Tari Ngajah Gelatik. Namun dua maestro seni dari Buleleng Bali ini punya keinginan lain.

Tari ini dibuat, tidak hanya sebagai hiburan semata, melainkan juga sebuah sindiran terhadap praktik pemeliharaan burung gelatik yang tidak manusiawi.

Sebab, burung gelatik diperlakukan secara tidak wajar. Burung tersebut dipaksa terbang ke sana ke mari dengan cara yang kasar, yakni dengan memainkan tongkat tempat berpijak burung tersebut.

Tari gelatik dibawakan enam penari wanita. Sementara seorang penari pria memerankan pelatih burung gelatik.

Melalui gerakan-gerakan yang dipadukan dengan iringan tabuh, tarian ini menciptakan sebuah karya seni yang menginspirasi dan memberikan pesan mendalam.

Pesan tersebut menyiratkan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan memperlakukan makhluk hidup dengan baik.

Tarian ini dipertontonkan di hadapan masyarakat Buleleng, Sabtu (20/4) malam di Pelabuhan Tua Buleleng.

Para penari dengan gemulai mengikuti alunan gamelan. Gerakannya cukup lincah, meski usia para penari tidak muda lagi.

Tampaknya mereka adalah penari-penari andal pada masanya. Mereka rata-rata berusia 50 tahun ke atas.

Baca Juga: Lampu Mobil Tetap Menyala? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Penari-penari itu yakni Ni Made Artiasih (Guru SD Padangbulia), Ni Luh Putu Asrihati (Guru SMP), Putu Wahyuni (swasta), Luh Suciningsih (swasta), Putu Darmita (swasta), Ketut Aryantini (Guru SD) dan Jero Mangku Ngurah Arya Sastrawan (swasta).

 “Kami semua dulunya adalah penari,” kata Made Artiasih, salah satu penari lewas.

Dibalut kostum burung gelatik berwarna biru, para penari ini “ngindang” di atas panggung.

Senyumnya merekah dan semangatnya membuncah. Alunan tabuh pun tidak mau kalah.

Para penabuh yang tergabung dalam Sekee Gong Kebyar Legendaris Eka Wakya, Banjar Paketan juga sangat bersemangat.

Usia renta rasanya tidak terasa ketika berhadapan langsung dengan seperangkat gong.

“Persiapannya sudah 2 bulan yang lalu. Biar tua dan sudah punya cucu kami tetap semangat. Hanya saja kendala-kendala kecil. Mungkin sedang bekerja atau ada kesibukan adat lainnya, latihan jadi agak ngaret sedikit. Tapi tidak masalah,” kata Artiasih.

Di lain sisi, masyarakat Buleleng memadati area Pelabuhan Tua Buleleng.

Dengan seksama mereka menyaksikan penampilan Sekee Gong Kebyar Legendaris Eka Wakya Banjar Paketan dan Sekee Gong Kebyar Legendaris Desa Munduk.

Gemuruh tepuk tangan terdengar riuh ketika kedua sekee gong itu menyelesaikan tugasnya pada panggung utama.

Terlihat pula Made Trip ikut beraksi dalam sekee gong legendaris Desa Munduk.

Tidak hanya itu, maestro tabuh asal Desa Jagaraga, Made Kranca, juga turut menyaksikan penampilan Sekee Gong Legendaris tengah mebarung di atas panggung, ditemani maestro Tari Ni Luh Menek.

Kebahagian para seniman ini tidak dapat disembunyikan. Tergambar raut wajah lega usai menunaikan pentas di Pelabuhan Tua Buleleng serangkaian Apresiasi Seni 2024. (*)

Editor : Nyoman Suarna
#bali #gelatik #pesan #Maestro #tari #buleleng