KLUNGKUNG, BALI EXPRESS – Salah satu pertunjukkan yang ditunggu-tunggu dalam pembukaan Festival Semarapura ke-6, Minggu (28/4) adalah fragmen tari Lawang Balingkang.
Lawang Balingkang sendiri menghadirkan kisah Kerajaan Bali kuno yang pernah mengalami masa kejayaan saat tahta dipegang oleh Sri Aji Jaya Pangus sebagai raja yang keratonnya terletak di Panarajon.
Penggagas cerita, Dewa Alit Saputra yang juga pembina Sanggar Tari Kayonan, menjelaskan bahwa dalam fragmen tari ini disajikan kisah asmara Sri Aji Jaya Pangus dengan Kang Cing Wie yang merupakan putri dari Babah Subandar yang merupakan saudagar dari negeri China.
Ketika tahta dipegang oleh Sri Aji Jaya Pangus, kehidupan rakyat di Panarajon sangat tentram dan sejahtera sehingga pada pedagang dan saudagar berbondong-bondonglah dari negeri Tiongkok ikut datang dan berjualan di Pasar Kintamani.
Tak hanya membawa dagangan kelontong, para pedagang Tiongkok juga membawa seni budayanya yaitu barongsai, barong naga, serta alat pembayaran berupa uang kepeng. Salah satu dari para saudagar yang datang bernama babah Subandar yang ikut berdagang dengan membawa serta putrinya yang sangat cantik bernama Kang Cing Wie.
Pada suatu hari raja Sri Aji Jaya Pangus pergi melihat-lihat keadaan pasar diiringi oleh para petinggi keraton. Dan saat itu lah Sri Aji Jaya Pangus terkesima melihat kecantikan putri babah Subandar tersebut.
Ada perasaan yang kuat raja Sri Aji Jaya Pangus ingin mengawini Kang Cing Wie. Maka agar selalu dapat melihat paras cantik Kang Cing Wie, Jaya Pangus meminta kepada babah Subandar agar mengijinkan putrinya diajak di keraton sebagai pelayan Mpu Siwa Gandu yang menjadi penasehat raja.
Dengan imbalan bahwa babah Subandar akan diberikan tempat dan lahan luas untuk berjualan bagi para pedagang Tiongkok. Akhirnya setelah Kang Cing Wie ikut dalam kehidupan keraton, ada keinginan kuat Sri Aji Jaya Pangus untuk menikahi Kang Cing Wie. Keinginannya ini disampaikan kepada penasehatnya Mpu Siwa Gandu.
Akan tetapi Mpu Siwa Gandu melarang keras, bahwa hal ini tidak mungkin dilakukan, karena raja sudah memiliki permaisuri bernama Dewi Danu. Lagi pula jika pernikahan ini dipaksakan, makan akan membawa bencana besar bagi keraton di Panarajon.
Sayangnya rasa cinta mengalahkan segalanya yang menyebabkan raja Sri Aji Jaya Pangus mengabaikan nasehat Mpu Siwa Gandu dan tetap akan menikahi Kang Cing Wie.
Upacara pernikahan pun dilangsungkan, dan saat itu Mpu Siwa Gandu memilih untuk pergi meninggalkan keraton, karena nasehatnya tidak dihargai. Seiring berjalannya waktu, muncullah hujan badai selama satu bulan tujuh hari yang meluluh lantakkan keraton Panarajon. Yang akhirnya membuat seisi keraton pergi meninggalkan Panarajon dan mendirikan keraton baru bernama Balingkang.
Baca Juga: Cegah DBD, Pemkot Denpasar Gencarkan Pelaksanaan Fogging
“Nama Balingkang diambil dari dua sumber yaitu bumi Bali dan “Kang” diambil dari nama Kang Cing Wie dimana saat itu sudah menjadi istri raja Sri Jaya Pangus,” ungkapnya.
Nah dalam perjalanan kisah asmara Sri Aji Jaya Pangus dengan Kang Cing Wie berakhir tragis, setelah keduanya kena kutuk dari Dewi Danu. Keduanya dikutuk menjadi pralingga berupa barong landung.
“Dan hingga saat ini Barong Landung masih lestari bahkan di beberapa desa adat, Barong Landung menjadi sesuhunan (dikeramatkan) warga. Dari perjalanan panjang kisah inilah kemudian terjadi akulturasi budaya antara Bali dan Tiongkok,” pungkasnya. (*)