BALI EXPRESS- Keberadaan Palinggih Kemulan menjadi bagian pemujaan yang cukup vital oleh Umat Hindu di Bali.
Palinggih Kemulan diyakini sebagai sumber asal muasal atau kamimitan sehingga dijadikan sarana pemujaan leluhur.
Umumnya, Palinggih Kemulan didirikan di bagian utama mandala atau uluning dari areal pekarangan rumah.
Tempat suci ini didirikan satu areal bersama dengan Palinggih Surya dan Palinggih Taksu.
Lalu bagimanakah jika seseorang belum memiliki palinggih Kemulan?
Di manakah roh leluhur akan malinggih?
Baca Juga: Berkat Pinjaman KUR BRI, Ratna Berhasil Kembangkan Usaha Konter HP dan Peternakan Babi
Dalam video yang dibagikan oleh akun Wira.id Channel, Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda pun menyebutkan bahwa palinggih Kemulan bukan tempat permanen bagi roh leluhur yang sudah meninggal.
“Masalah Kemulan bapak ibu yang belum punya gak usah khawatir karena itu bukan tempat permanen,” jelas Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, dikutip pada Senin (29/04).
Lebih lanjut, Ida Pandita menyebut bahwa palinggih Kemulan adalah tempat persinggahan sementara bagi roh leluhur yang ingin menjalin komunikasi kepada keturunannya.
“Keturunannya ingin komunikasi dengan leluhur lakukanlah itu di tempat pemujaan leluhur, panggil dari situ,” jelas Ida Pandita.
Pihaknya tak menyarankan membuat sanggah kemulan di masing-masing rumah karena tanggungjawabnya berat.
Namun juga ingin membangun solidaritas, Umat Hindu bisa membangun Gedong Pemoksan.
“Ga usah pakai Sanggah Kemulan tetapi kalau bisa ya Astungkara, kalau tidak bisa jangan dipaksakan,” jelasnya.
Editor : Wiwin Meliana