BALI EXPRESS- Penggiat media sosial Ary Ulangun menyoroti sebuah video yang beredar di media sosial.
Dalam video yang diunggah melalui akun Facebook miliknya @Ary Ulangun, ia mengunggah sebuah video yang memperlihatkan siswa yang sedang merayakan kelulusannya.
Di tengah kegembiraannya merayakan kelulusan, ada aksi nyeleneh yang dilakukan oleh beberapa siswa tersebut.
Salah satu siswa memberikan sarana daksina lengkap dengan dupanya sebagai bentuk perayaan kelulusan.
“Gradu bucqet bunga (X) Gradu Bucqet daksina (v),” tulis keterangan dalam video tersebut.
Sontak saja, aksi tersebut membuat penggiat media sosial Ary Ulangun merasa miris.
“Mau sampe kapan dibiarkan? Nyen ngelah panak ne? dije masuk? Adi sampe ngendah-ngendah kene?” tulis Ary Ulangun dikutip pada (08/05).
Lebih lanjut, ia juga menyebut jika seharusnya PHDI mesti gencar mengedukasi dan menyiapkan aturan terkait konten-konten yang menyasar hal-hal yang berbau kepercayaan.
“Tidak jarang kita jumpai konten-konten sensitive yang mengarah kemelucukan tradisi dan kepercayaan sendiri, selain oleh orang luar, sangat banyak juga kita jumpai oleh orang sendiri,” tulisnya.
Menurut Ary Ulangun hal itu sama sekali tidak lucu, karena akan menjadi contoh bagi orang-orang luar dan bisa menjadikan lelucon sarana upakara bahkan di depan pelinggih sekalipun.
“Efeknya beruntun bisa terjadi ke generasi berikutnya, jika mereka melihat ada peluang dan celah viral dari algoritma konten-konten seperti ini,” paparnya.
Pihaknya khawatir jika hal tersebut akan ditiru serta makin banyak dijumpai konten-konten sensitive yang melucukan kepercayaan sendiri.
Unggahan tersebut pun mendapat banyak respons dari warganet.
Sebagian warganet pun merasa miris dengan kelakuan siswa tersebut yang membuat konten-konten dengan sarana upakara.
“Aduh yen buket bentuk kwangen sih gpp yak arena replica, ne daksina sekenan lo, aduh,” komentar akun @Ayu Hervina Sanjayanti.
“Miris sekali ini remaja kurang pengetahuan tentang upakara dan kesakralan,” tulis akun @Andika Panendra.
Editor : Wiwin Meliana