BALI EXPRESS- Viralnya video sejumlah pemuda berebut sesari saat umat Hindu menghanturkan banten menjadi sorotan I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (AWK).
Senator DPD RI Bali terpilih itu sangat menyayangkan aksi maling sesari yang sudah masuk ke ranah Parahyangan atau area suci umat Hindu.
Baca Juga: Marak Kode Darknet di Sejumlah Tembok Kawasan Bali, Diduga Untuk Pemasaran Narkoba
Dalam unggahannya, AWK memposting ulang unggahan dari Koran Bali Express yang menampilkan video sejumlah pemuda pencari sesari banten lengkap dengan penutup wajah.
Bahkan Arya Wedakarna justru menyoroti sikap umat Hindu yang hanya diam saat melihat kejadian tersebut.
“Kok bisa-bisanya umat Hindu khususnya yang laki atau purusa diam melihat sarana bebantenannya diobrak abrik nggih?” tulis AWK dikutip pada Rabu (15/05).
Pihaknya pun mempertanyakan sikap keberanian orang Hindu saat ada pelecehan sebuah ritual.
“Di mana keberanian orang Hindu saat ada pelecehan ritual? Sangat memprihatinkan sekali,” jelasnya.
Pihaknya juga meminta kepada pecalang setiap desa adat untuk bisa mengamankan upacara adat.
“ke depan, setiap panitia karya harus siapkan pecalang atau jagabaya untuk bisa amankan upacara adat,” imbuhnya.
Diberitakan sebelumnya, sebuah video memancing emosi warganet di media sosial.
Dalam video yang beredar terlihat sejumlah pemuda berebut sesari (persembahan berupa uang) saat umat Hindu menghanturkan banten.
Dalam video yang dibagikan oleh akun Facebook Global BALI Video, terlihat sejumlah pemuda berebut sesari yang dihaturkan dibanten yang dibuat oleh Umat Hindu.
Baca Juga: Peredaran Narkoba di Bali Mengkhawatirkan, Begini Pesan Arya Wedakarna
Terlihat beberapa orang pria dengan penutup wajah naik untuk mengambil sesari yang ada dibanten.
Mereka tanpa segan mengambil sesari meski terlihat mengacak-acak persembahan yang dihaturkan.
Sejumlah umat Hindu yang berada dilokasi tampak tak bisa berbuat banyak.
Terdengar suara si perekam video juga tampak kesal dengan aksi pemuda pencari sesari tersebut.
Belum diketahui secara pasti di mana lokasi kejadian dan upacara itu berlangsung.
Editor : Wiwin Meliana