DENPASAR, BALI EXPRESS - Pantai di sepanjang garis pesisir Pulau Bali, keindahannya diakui dunia.
Jutaan wisatawan lokal dan mancanegera bergantian singgah di Bali, menikmati keindahan pesisir, sejak matahari terbit hingga terbenam di ufuk timur.
Namun, siapa sangka, rupanya problem sampah pun setiap hari merusak keelokan pesisir Bali. Setiap hari, ratusan ton sampah mengotori pesisir Bali.
Berbarengan dengan agenda World Water Forum (WWF) 2024 yang sedang dihelat di Pulau Dewata, kolaborasi aksi nyata untuk membersihkan pesisir dilakukan oleh sejumlah komunitas.
Aksi pertama dilakukan di Pesisir Sanur didukung oleh EIGER Adventure, brand penyedia perlengkapan luar ruang asal Bandung, Jawa Barat.
Pada Rabu, 22 Mei 2024, berlokasi di Pantai Mertasari, Sanur Inisiasi SayaPilihBumi, EIGER Adventure dan Seasoldier bersama puluhan komunitas dan rekan-rekan jurnalis di Pulau Dewata melakukan aksi bersama dengan tajuk Beach Clean Up. Dalam aksi ini turut serta pula Ramon Tungka selaku Brand Ambassador EIGER
Ramon mengatakan, keterlibatan semua pihak mutlak dibutuhkan sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi persoalan lingkungan.
“Harus kita akui bahwa perilaku kita telah membuat kita bergantung dan tenggelam di tengah gempuran sampah plastik yang menyesaki planet ini. Jelas kita harus bersikap, mana yang lebih berharga? Bumi atau plastik? Saya pilih bumi!” tegas Ramon Tungka selaku editor at Large SayaPilihBumi sekaligus sebagai Brand Ambassador EIGER.
Bermula dari pesisir Pantai Mertasari, sekitar 500 meter bergerak menyusuri pesisir, puluhan relawan berasal dari berbagai komunitas memungut berbagai sampah yang berserakan di pesisir.
Mulai dari sampah botol plastik, bungkus rokok, botol minuman kaleng, bungkus mi instan dan cup, hingga botol plastik bekas pengharum pakaian terdampar di pesisir.
Dinni Septianingrum selaku Founder & COO dari Seasoldier Foundation mengatakan, faktanya apa yang dilakukan di daratan itu menciptakan sampah plastik.
Semua sampah yang terdampar di pesisir ini berasal dari kehidupan sehari-hari.
Dinni menambahkan, tentang laut Indonesia datanya benar-benar mengkhawatirkan.
Luas lautan yang dimiliki 3,5 juta km2 sementara sampah yang ada di lautan Indonesia secara keseluruhan diperkirakan mencapai 5,75 juta ton. Artinya dalam tiap meter laut Indonesia, sudah ada sampahnya!
“Apa yang kita lakukan di daratan berdampak pada laut. Sampah di laut akan pecah menjadi mikroplastik, lalu akan terpecah kembali menjadi nanoplastik, lalu dimakan ikan, dan akhirnya ikannya dimakan oleh kita. Artinya kita memakan sampah plastik yang kita buang sehari-hari dan terdampar di lautan luas,” ujar Dinni.
Ecobrick ini dapat dimanfaatkan untuk membuat blok bangunan, membuat kursi atau meja dan masih banyak kerajinan yang lain.
Kegiatan pembersihan pantai dan pembuatan ecobrick ini ditunjukan sebagai komitmen SayaPilihBumi dan Seasoldier untuk memberikan kontribusi terhadap lingkungan yang lebih baik.
Kegiatan Beach Clean Up dan lokakarya pengolahan sampah ini didukung penuh oleh EIGER Adventure.
Tak hanya digelar di Denpasar, Bali, rangkaian kegiatan ini nantinya juga akan menyambangi kota-kota lainnya di Indonesia agar menginspirasi semakin banyak komunitas dan masyarakat Indonesia untuk berbuat hal serupa demi lingkungan yang lebih baik. (*)
Editor : I Made Mertawan