DENPASAR, BALI EXPRESS - Kejadian tragis menimpa kakak beradik yatim piatu yang ditemukan bunuh diri di Jembatan Tukad Bangkung, Badung, Bali.
Kematian Ketut Sutama, 23, dan Putu Yasa, 5, mengejutkan masyarakat sekitar dan mengundang perhatian banyak pihak.
Salah seorang relawan dari Komunitas Lentera Hati, Ni Luh Getas, menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi rumah kedua anak tersebut pada 3 Mei 2024 lalu.
Ia menyampaikan kondisi memprihatinkan yang dialami oleh keluarga ini sebelum tragedi terjadi.
Yang mana, keseharian mereka sepeninggal kedua orang tua hanya hidup bertiga.
"Iya, waktu itu saya ke sana hanya memberikan sembako dan uang cash. Kalau jumlah uangnya saya lupa karena teman-teman yang ikut juga memberikan uang," kata Getas saat diwawancara, Senin (27/5).
Menurut relawan asal Karangasem ini, rumah yang dihuni oleh anak-anak ini berada dalam kondisi yang sangat tidak layak.
"Waktu itu dapat bedah rumah kata pak kadus, jadi saya tanya, 'Oh ini bedah rumah gitu,' dan banyak bekas-bekas TV yang rusak. Bapaknya dulu tukang service TV, dan setelah meninggal, anak laki-lakinya yang melanjutkan. Saat saya ke sana, dia kebetulan tidak ada di rumah, hanya ada kakaknya yang cacat dan adik yang paling kecil,” jelasnya.
Getas menerangkan, kakak perempuan yang berinisial Luh S yang cacat tersebut sebelumnya mengalami kecelakaan.
Kondisi ini yang menyebabkan pertumbuhannya tidak berkembang.
"Dia pernah jatuh, jadi kondisinya seperti itu, tidak bisa berkembang," ungkapnya.
Saat ini, lantaran dua saudaranya ditemukan telah tiada, Luh S harus hidup sebatang kara.
Getas juga menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan oleh berbagai komunitas sosial adalah sumber utama kehidupan mereka.
"Kalau makan dari mana, ada aja yang seperti saya dan komunitas-komunitas yang mau menengok ke sana. Kalau tidak ada, mungkin mereka tidak bisa makan, dari postur tubuhnya kelihatan si adik kecil itu tidak terurus,” katanya.
Getas menyebutkan, kondisi mereka sebelumnya tidak bersekolah. Pun demikian anak malang yang berusia paling kecil masih berumur 5 tahun.
Komunitas Lentera Hati dan masyarakat sekitar kini berupaya menggalang dana dan memberikan bantuan kepada kakak perempuan yang ditinggalkan.
Bantuan terus mengalir dari berbagai pihak yang prihatin dengan kondisi tragis yang dialami oleh keluarga ini. ***
Editor : I Putu Suyatra