Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Sanggar Seni Manik Uttara ; Inspirasi Seni untuk Anak Difabel dengan Antusiasme Tinggi

Dian Suryantini • Rabu, 12 Juni 2024 | 00:55 WIB
MENARI : Latihan menari di Sanggar Seni Manik Utara, Buleleng.
MENARI : Latihan menari di Sanggar Seni Manik Utara, Buleleng.

BALIEXPRESS.ID - Seni adalah bahasa universal yang dapat dinikmati oleh semua orang, tanpa terkecuali.

Sanggar Seni Manik Uttara menjadi contoh nyata dari semangat inklusivitas ini. Didirikan oleh I Kadek Sefyan Artawan pada 20 Juli 2015, sanggar ini dikenal karena kesediaannya menerima anak-anak difabel sebagai anggota.

Hal ini dimulai ketika seorang orang tua bersemangat tinggi ingin mendaftarkan anaknya yang berkebutuhan khusus untuk belajar seni, seperti anak-anak lainnya.

 Baca Juga: Tak Usah ke Yunani untuk Nikmati Suasana Pulau Santorini, Kunjungi The Blue Loft Bali: Jangan Bandingkan dengan Glamping di Kintamani

“Kami tidak membatasi siapa yang bisa belajar di sini. Syaratnya hanya kemampuan untuk menghitung ketukan dan mengenali kanan-kiri saat menari. Kami juga memiliki pelatih yang sangat sabar, sehingga anak-anak bisa mengikuti arahan dengan baik. Ini adalah pencapaian luar biasa bagi sanggar dan anak didik kami,” jelas I Kadek Sefyan Artawan pada acara Bincang Komunikasi (B-Kom) di Gedung BCC Kominfosanti, Selasa (11/6).

 

Sanggar Seni Manik Uttara, yang berlokasi di Desa Giri Mas, Kecamatan Sawan, telah berkembang pesat dengan hampir lima ratus anggota.

Awalnya didirikan dengan tujuan melestarikan dan memperkenalkan gamelan Semar Pegulingan, yang pada saat itu kurang berkembang di Buleleng.

Selain gamelan Semar Pegulingan, sanggar ini juga memiliki seperangkat gamelan gong kebyar dan berhasil menciptakan regenerasi baik untuk penari maupun penabuh.

 

Aktivitas di sanggar ini sangat aktif dengan latihan rutin yang dijadwalkan setiap hari, termasuk latihan menari, megambel dasar, megambel anak-anak, gong dewasa, dan gong wanita.

Sanggar juga memiliki rencana untuk memperluas cakupannya ke wilayah timur Buleleng, seperti Kecamatan Kubutambahan hingga Tejakula, mengingat kurangnya sanggar seni di daerah tersebut.

Baca Juga: Dibuka Sejak Mei, Layanan Rehabilitasi Narkoba RSD Mangusada Sudah Terima Enam Pasien

 

“Kami sering berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta, seperti festival atau pagelaran seni. Kami terus berkarya dengan prinsip ngayah sambil melajah, dengan fokus pada kearifan lokal Buleleng,” tambah I Kadek Sefyan Artawan.

 

Dedikasi Sanggar Seni Manik Uttara dalam melestarikan seni dan budaya Bali, serta upayanya dalam melibatkan anak-anak difabel, patut mendapat apresiasi. Kegigihan mereka dalam mendidik generasi muda Buleleng untuk mengenal dan mencintai budaya lokal menjadi inspirasi yang patut diteladani. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#Manik uttara #difabel #bali #antusias #sanggar seni #seni #buleleng