BALIEXPRESS.ID - Wajah keriput dan rambut yang memutih, kegesitan tubuh Nenek Rukkaiyah masih terlihat.
Sosoknya pun membuat banyak orang takjub. Pada usia 75 tahun, nenek asal Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng ini tetap aktif memanjat pohon-pohon tinggi. Seperti pohon cengkih, kemang (wani), mangga, bahkan durian.
Kemampuannya yang luar biasa membuatnya dijuluki nenek sakti oleh warga setempat.
Konon, di usianya yang sudah sepuh itu ia pernah memanjat pohon setinggi 20 meter.
Rukkaiyah, yang akrab dipanggil Nenek Kaiyah, menunjukkan keahliannya di kebun cengkeh belakang Pondok Pesantren Al Amin Desa Pegayaman.
Dengan pakaian bercorak daun, Nenek Kaiyah dengan mudah berkamuflase.
Ia berangkat dari rumahnya pada pukul 07.00 WITA. Setibanya di belakang pondok ia lantas memanjat pohon cengkih setinggi 4-5 meter hanya dengan tangan dan kakinya, tanpa alat bantu seperti tangga.
Gerakannya begitu lincah dan mantap, seperti seekor kucing yang merayap di dahan-dahan.
Keahliannya memanjat pohon bermula sejak usia 15 tahun.
Sebagai anak yatim piatu, Nenek Kaiyah harus berjuang untuk hidup.
Dengan berani, ia mulai bekerja memanjat berbagai pohon untuk memetik buah dan mendapatkan upah.
Hingga saat ini, keterampilan tersebut masih menjadi sumber penghidupannya.
Nenek Kaiyah mengaku bahwa kunci ketahanan fisiknya adalah hidup sederhana dan terus aktif.
“Hidup tenang, makan nasi dan sayuran, yang penting terus bergerak,” katanya dengan senyum, Kamis (13/6).
Meski tubuhnya kecil dan tampak ringkih, penglihatan dan pendengarannya masih sempurna.
Kondisi fisiknya pun masih prima. Hal ini terbukti saat ia memetik bunga-bunga cengkih kecil di ketinggian pohon tanpa kesulitan sedikit pun.
Tubuhnya yang kecil dengan cepat merayap di ranting-ranting pohon.
Tangan dan kakinya masih terlihat kuat mencengkeram ranting.
Tubuhnya yang terlihat ringan dan dengan mudah berpindah dari pohon ke pohon dicurigai memiliki ilmu peringan tubuh.
“Tidak ada persiapan khusus. Saya hanya membaca bismillah dan sholawat sebelum memanjat,” ungkap Nenek Kaiyah.
Namun, perjalanan hidup Nenek Kaiyah tidak selalu mulus.Ia pernah jatuh dari pohon dua kali.
Pengalaman lain yang menguji nyalinya adalah saat ia harus menghadapi tabuan (tawon) di pohon durian.
“Alhamdulillah, saya masih disayang Allah sehingga sehat kembali. Tapi saya bersyukur tidak terjadi apa-apa,” tambahnya.
Meskipun tak seproduktif saat muda, Nenek Kaiyah masih mampu memetik sekitar 25 kilogram cengkih setiap harinya.
Upahnya mungkin tak seberapa, hanya Rp5.000 per kilogram untuk memetik, dan Rp 15.000 per kilogram untuk memungut cengkih yang jatuh.
Namun semangat dan keberaniannya memanjat pohon tetap membara. “Dulu, saya bisa petik mencapai 50 kilogram,” kenangnya.
Sosok Nenek Kaiyah di Pegayaman begitu melegenda. Hampir di setiap pelosok desa mengetahui kesaktian Nenek Kaiyah dalam memanjat pohon.
Atas kegigihan dan keterampilannya itu, Nenek Kaiyah memotivasi warga desa untuk terus bekerja.
“Istirahat boleh, tapi jangan berhenti. Kalau diam malah sakit,” kata Nenek Kaiyah sambil berlalu kembali ke rumahnya.
Editor : Nyoman Suarna