BALIEXPRESS.ID – Petani di Subak Lebah Sembawa, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Buleleng, kewalahan. Air yang berada pada pinggiran sawah selalu meluber ke persawahan.
Air itu berasal dari bendungan Titab-Ularan. Aliran air di pinggir sawah itu memang dimanfaatkan para petani untuk mengairi sawah.
Tetapi air tersebut meluber hingga merendam sawah petani yang mengakibatkan lahan sawah rusak dan sulit ditanami.
Kelian Subak Lebah Sembawa, Dewa Ketut Darmayasa mengatakan, melubernya air itu disebabkan lantaran tidak ada tanggul yang membatasi air menuju persawahan.
Para petani pun secara swadaya membangun tanggul agar aliran air dapat terkontrol. Akan tetapi hal itu tidak berhasil. Debit air yang sewaktu-waktu meningkat menghanyutkan tanggul yang dibuat oleh petani.
“Kami membangun dengan gotong royong. Kami kewalahan kalau selalu membuat tanggul. Kami menginginkan adanya tanggul permanen agar sawah petani tidak terendam banyak air,” ungkapnya, Sabtu (15/6).
Darmayasa menyebut, sejak tahun 1970-an, areal persawahan itu memang tidak pernah memiliki tanggul permanen. Tanggul hanya dibuat secara swadaya oleh warga. Jika tanggul tidak dibuat, dikhawatirkan tanaman yang ditanam pada lahan sawah akan rusak karena terendam air terlalu banyak. Akibatnya petani pun dapat merugi.
Baca Juga: Pernah Duet Bareng, 3 Pasangan Artis Bali Ini Akhirnya Memilih Berpisah
“Disini ada 28 hektar sawah yang dimiliki 36 petani di Subak Lebah Sembawa. Bagaimana kami bisa Bertani kalau sawahnya terendam banyak air. Kalau musim hujan, airnya banyak. Tanggulnya pasti jebol, karena tidak permanen. Kalau airnya bablas, sawah kami sudah terendam,” ujarnya.
Tanggul yang dibutuhkan sepanjang 29 meter dengan tinggi 6 meter. Untuk membuat tanggul permanen, diperkirakan butuh biaya hingga Rp 500 juta. Usulan untuk mendapat bantuan pembuatan tanggul kepada pemerintah juga sempat dilakukan, namun belum membuahkan hasil.
Baca Juga: BNI Buka Layanan Terbatas pada Hari Raya Idul Adha 1445 H
“Dulu sudah pernah kami usulkan dengan bersurat ke pemerintah daerah tapi belum mendapat respon. Untuk dana desa di Desa Lokapaksa arah pemanfaatan juga masih belum ke sana (perbaikan tanggul). Jadi kami bingung seperti apa agar kami bisa membantu petani dan warga kami di subak itu,” kata dia. (*))
Editor : I Dewa Gede Rastana