BALIEXPRESS.ID - Keluarga taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta yang tewas setelah dianiaya seniornya, Putu Satria Ananta Rustika atau yang akrab disapa Rio masih terus menuntut keadilan.
Ni Nengah Rusmini, ibunda almarhum Rio masih terus memantau perkembangan kasus kematian putra sulungnya tersebut.
"Terakhir ada update tanggal 30 Mei 2024, dan sekarang belum ada perkembangan lagi," ujarnya Selasa (18/6).
Rusmini pun menuturkan jika pasca Pengabenan almarhum Rio, ia dan keluarga justru merasa semakin kehilangan.
Bahkan ia belum bisa mengikhlaskan kepergian putra yang begitu ia banggakan. "Kami belum bisa ikhlas, masih sangat terpukul. Masih seperti mimpi," imbuhnya.
Apalagi pada Kamis (13/6) lalu, Putu Satria genap berusia 19 tahun. Rusmini pun menghaturkan sodaan (banten persembahan) untuk Rio beserta kue yang sengaja dibelikan oleh adik dari Rio.
"Kemarin di hari kelahiran Rio, saya buatkan sodaan saja, sama kue dari adiknya sebagai bentuk kasih sayang kami pada Rio," lanjutnya.
Ditambahkannya jika sebagai sesuai keyakinan keluarga, pihaknya juga telah nunas baos ke tempat orang pintar sebelum dan sesudah Pengabenan. Dari hasil nunas baos, disebut pelaku penganiayaan Rio berjumlah 5 orang.
Selain itu Rio juga meminta agar keluarganya tegar dan kuat melepas kepergiannya. Ia tak mau ada air mata.
"Dari nunas baos, dia (Putu Satria) bilang tidak salah apa-apa. Memang ada unsur iri," sebutnya.
Disamping itu Ayah dari Rio, I Ketut Suastika baru saja usai membuat tatto wajah Rio di lengan kirinya untuk meluapkan kesedihannya ditinggal anaknya yang baik dan berprestasi itu.
"Bapaknya suka seni tatto, cara bapaknya mengekspresikan rasa sedih ya lewat tatto itu. Biar Rio selalu ada bersama bapaknya," jelasnya ririh.
Untuk mengobati rasa rindunya, Rusmini juga kerap mengunggah kenangan Rio di media sosial miliknya.
Pada awal bulan Mei 2024 lalu, publik dibuat heboh dengan berita seorang taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta yang menjadi korban senioritas dari seniornya.
Putu Satria Ananta Rustika atau yang akrab disapa Rio berpulang setelah dipukul di bagian dada sebanyak 5 kali oleh seniornya Tegar Rafi Sanjaya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana