BALIEXPRESS.ID- Hampir 2 tahun Ketut Lihadnyana menjadi Penjabat Bupati Buleleng.
Banyak tantangan dihadapi Lihadnyana selama menjadi orang nomor satu di Buleleng.
Bagi Lihadnyana, tidak mudah menjadi seorang pemimpin. Ia pun tidak segan membeberkan pendapatan yang ia kantongi selama menjadi pemimpin di Buleleng.
Dalam diskusi politik "Siapa Paling Siap Jadi Pilot Denbukit" yang diadakan oleh Komunitas Jurnalis Buleleng di Gedung Wanita Laksmi Graha, Kamis, 27 Juni 2024, Lihadnyana memaparkan pendapatan yang diterima oleh kepala daerah.
Katanya, ada empat komponen pendapatan bupati, yakni gaji, tunjangan, biaya operasional pemungutan pajak dan upah pungut.
Untuk gaji dan tunjangan sebagai Penjabat Bupati Buleleng, Lihadnyana semestinya menerima sebesar Rp9.432.520 per bulan.
Namun, Lihadnyana mengaku bahwa ia tidak mengambil gaji dan tunjangan ini dengan alasan ia adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Saya tidak mengambil di sini (gaji dan tunjangan) sudah dibayarkan oleh provinsi,” kata Lihadnyana.
Komponen kedua, upah pungut. Upah pungut memberikan tambahan sebesar Rp18.865.040 yang diterima setiap 3 bulan.
Pendapatan ini berfungsi sebagai insentif terkait pemungutan pendapatan asli daerah (PAD).
“Kemarin saya dapat sekian. Ini tergantung PAD. PAD meningkat, nanti dapat tambahan lagi,” ungkapnya.
Biaya operasional pemungutan pajak adalah komponen ketiga, yang nominalnya sangat bervariasi tergantung pada realisasi PAD.
Lihadnyana menyebutkan bahwa pada bulan Mei, ia menerima biaya operasional sebesar Rp26 juta.
Selain itu, ada juga natura berupa biaya rumah tangga di rumah jabatan yang mencapai Rp25 juta.
Komponen ini mencakup kebutuhan operasional sehari-hari di rumah dinas.
Jika dijumlahkan, pendapatan bulanan seorang bupati di Buleleng bisa mencapai maksimal Rp79.297.560.
Namun, Lihadnyana menekankan bahwa angka ini adalah untuk Penjabat Bupati yang tidak memiliki wakil.
“Itu normalnya gaji bupati. Kalau saya kan tidak ambil gaji dan tunjangan. Dan tidak ada wakilnya. Kalau ada wakil, ini dibagi lagi. Jadi jangan dirasa enak jadi bupati, harus siap terima kenyataan. Apalagi saya bukan pengusaha. Beda dengan Pak Agus (mantan bupati Buleleng) yang banyak punya usaha,” paparnya. (*)
Editor : I Made Mertawan