BALIEXPRESS.ID - Video cekcok atau perdebatan panas antara seorang pecalang dan sepasang pedagang di Bali yang sempat viral di media sosial beberapa hari lalu.
Namun, kasus ini akhirnya telah menemui titik terang.
Kedua belah pihak telah berdamai dan saling meminta maaf.
Awalnya, pedagang berjualan di depan rumah warga setempat.
Namun, pemilik lahan merasa terganggu dengan adanya pedagang tersebut dan meminta pedagang untuk pindah.
Pedagang tidak mengindahkan permintaan tersebut, dan bahkan menantang pemilik lahan untuk menyelesaikan masalah di luar.
Hal ini kemudian memicu perdebatan panas antara pecalang.
Perdebatan tersebut direkam oleh istri pedagang dan disebarkan di media sosial.
Video yang beredar tersebut kemudian viral dan menimbulkan tanggapan negatif terhadap pecalang.
Banyak warganet yang terpancing emosi dan menyalahkan pecalang.
Setelah mediasi yang dilakukan oleh Kelian Dinas Banjar Tanah Bang, Kediri Tabanan, disepakati bahwabahwa tidak ada pihak yang mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.
Dalam video mediasi tersebut terungkap bahwa di Banjar Tanah Bang, yang penting untuk berjualan menyelesaikan masalah perjanjiannya dengan pemilik lahan apakah itu sewa atau seperti itu. Itu ranah privat.
Akan tetapi, klian banjar dalam video tersebut mengatakan di Banjar Tanah Bang juga ada sumbangan untuk banjar.
Namun, kasus ini akhirnya dapat diselesaikan dengan damai. Pedagang dapat berjualan kembali di tempat tersebut dengan syarat meminta izin kepada warga atau pemilik lahan terlebih dahulu.
Di akhir mediasi, terlihat pedagang dan pecalang bersalaman dan saling meminta maaf.
Lantas, di mana lokasi tersebut? Dari penelusuran Baliexpress.id, lokasi itu berada di Jalan Tendean, masuk Banjar Tanah Bang, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan.
Yakni di jalur Kediri-Marga, di jalan menuju Alas Kedaton, kalau dari Kediri Tabanan.
Lokasi tanah yang dijadikan parkir untuk jualan pedagang berpikap itu di seberang jalan depan balai banjar Tanah Bang. Atau di barat balai banjar.
Pikap itu terparkir di tanah kosong yang cukup luas, sekitar 2-3 are, milik warga. Di sebelahnya ada bangunan yang ditempati CV Merta Buana yang bergerak di bidang kontraktor dan leveransir.
Nah, di tanah kosong itulah pedagang itu memarkir pikap yang berisi dagangan sayuran hingga berujung cekcok dengan pecalang, dan berakhir damai. ***
Editor : Y. Raharyo