BALIEXPRESS.ID - Selain memiliki view yang indah, Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park juga memiliki pementasan Kecak Kolosal.
Pementasan tarian ini pun cukup berbeda dengan lainnya, sebab memiliki cerita tersendiri.
Bahkan Tari Kecak GWK ini setiap hari selalu dipentaskan.
Bukan hanya itu, pementasan Kecak Kolosal ini pun pertama kali ditampilkan di Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-46, Minggu (30/1).
Tarian kecak ini mengangkat cerita “Garuda Duta”, yang menceritakan adanya seekor burung garuda yang menjadi tunggangan Dewa Wisnu.
Pementasan ini pun mengundang decak kagum dan tawa bagi penonton. Sebab perpaduan seni yang indah dengan diselingi komedi dengan berbahasa kekinian.
Art creator dari penampilan Kecak Kolosal GWK, AA Gede Agung Rahma Putra mengatakan, pementasan ini merupakan persembahan dari GWK Cultural Park dengan menghimpun seniman muda.
Kurang lebih ada 250 seniman yang dilibatkan, baik yang sering tampil di GWK dan tambahan.
“Perbedaan dengan pementasan di GWK, adanya perpaduan dari koreografi, video mapping, dan plot. Sedangkan pementasan di GWK, lebih mendekat ke tradisi. Sedangkan yang di sini lebih ke menkoraborasikan, juga ada unsur teaternya,” ujar Gung De Rahma, saat ditemui usai pementasan.
Menurutnya, adanya penggunaan bahasan Indonesia yang layaknya bahasa pergaulan saat ini memang sesuai rancangan awal.
Ia mengaku, penggunaan bahasa ini agar penonton lebih memahami. Sebab Tari Kecak ini disebutkan sudah mendunia.
“Tidak hanya bahasa Kawi dan Bali, kami mix dengan bahasa Indonesia, karena audience-nya nusantara bahkan seluruh dunia,” ungkapnya seraya ingin mengemas pementasan kecak dengan bahasa Inggris.
Marketing Communication Division Head GWK, Andre Prawiradisastra mengaku, penampilan di PKB adalah mimpi besar dari GWK.
Sehingga ia terus mengajukan kepada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Pihaknya diberikan kesempatan mementaskan Tari Kecak di panggung terbuka Ardha Candra.
“Kami awalnya tidak berharap diberikan panggung sebesar ini. Awalnya boleh tidak kami ikut pawai. Jadi ini antara bangga atau deg-degan,” paparnya.
Andre pun menerangkan, Tari Kecak ini setiap harinya juga dipentaskan di GWK. Tepatnya pada pukul 18.00 Wita dengan tidak dipungut biaya tambahan selain tiket masuk area GWK.
“Kami berharap dengan penampilan di PKB, masyarakat jadi mengetahui ada pementasan Tari Kecak di GWK,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia berharap, agar dapat mengikuti PKB secara berkelanjutan.
Pihaknya pun telah mengajukan keinginan tersebut ke Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
“Kami ingin setiap tahun tampil di PKB, tentunya dengan konsep yang berbeda,” harapnya.
Editor : Nyoman Suarna