BALIEXPRESS.ID - Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-46 2024 punya hiburan mancing botol dengan hadiah handphone atau smartphone. Syaratnya hanya bisa membuat botol yang tertidur menjadi tegak berdiri.
Pesta Kesenian Bali selalu memimiki antusias tinggi dari pengunjung lokal maupun mancan negara.
Selalu menampilkan pertunjukan kesenian yang memukau dan kuliner yang pastinya menggoyang lidah.
Tidak hanya itu di Pesta Kesenian Bali menghadirkan bernagai hiburan dengan hadiah yang menarik.
Salah satu hiburan yang perlu dicoba iyalah pancing botol dengan hadiah yang super gokil.
Bagaimana tidak, hiburan yang lain hanya memberikan hadiah berupa boneka, minuman dan lain sebagainya.
Namun tidak di permainan pancing botol, permainan ini menyediakan hadiah yang super gokil.
Hadiah yang ditawarkan dari permaian pancing botol tidak main-main, hadiah utamanya yaitu smartphone.
Tidak hanya smartphone, berbagai hadiah yang menarik juga tersedia mulai dari magic com, gitar, speaker, dan masih banyak lagi.
Meskipun hadiahnya sangat menarik, permainan pancing botol ini bisa dibilang permainan paling sulit di Pesta Kesenian Bali.
Untuk cara bermainnya, kita harus bisa mendirikan satu botol saja untuk bisa memilih hadiah.
Sepertinya gampang, tapi untuk bisa mendirikan satu botol susahnya minta ampun.
Dengan menggunakan alat seperti kail pancing dengan ujung yang diikat dengan tali kemudian di ujung tali terdapat gelang yang berfungsi untuk menarik botol agar berdiri.
Titik kesulitan dalam permaianan ini adalah pada saat menarik botol yang miring dengan menggunakan pancing tersebur agar botol bisa berdiri.
Tidak sedikit para pemain yang harus gugur dalam permaianan ini mengingat memerlukan konsentrasi yang tinggi untuk bisa memaianan permaianan ini (pancing botol).
Untuk bisa bermain permainan pancing botol kita hanya cukup membayar Rp10.000 dan mendapat tiga kali kesempatan.
Botol bisa berdiri dengan gelang yang masih menempel di botol pemain bisa memilih hadiah bebas.
Namun meskipun botol sudah berdiri tanpa adanya gelang yang menempel dianggap gagal atau tidak sah. ***
Editor : Y. Raharyo