BALIEXPRESS.ID-Berita duka datang dari Griya Sanur Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Selasa sore (9/7), tokoh Hindu terkemuka di Bali, Ida Pedanda Wayahan Bun, mengembuskan napas terakhirnya.
Almarhum meninggalkan dua orang istri dan tujuh orang anak.
Semasa hidupnya, semasa walaka almarhum merupakan pensiunan dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana (Unud).
Baca Juga: Beda dengan Bali United, Madura United Kenalkan Pemain Lokal, Satu Orang Mantan Asuhan Teco Cugurra
Beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabuapaten Gianyar.
Beliau kemudian mediksa pada tahun 2000 silam dan aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan.
Selama menjadi sulinggih, Ida Pedanda Wayahan Bun memimpin berbagai upacara, termasuk saat awal pandemi Covid-19 pada tahun 2020.
Saat itu, Gianyar juga dilanda wabah babi mati, dan Bupati Gianyar Made Mahayastra mengundang para sulinggih, termasuk Ida Pedanda, untuk memberikan masukan.
Ida Pedanda menyarankan agar pemerintah menggelar upacara di tepi pantai Gianyar sebagai penetralisir wabah.
Selain itu, Ida Pedanda Wayahan Bun juga pernah muput acara melaspas Istana Mancawarna Tampaksiring pada tahun 2011 silam.
Hal tersebut diungkapkan Arya Wedakarna melalui akun media sosialnya.
Lebih lanjut, AWK juga menyebut jika Ida Pedanda Bun lah yang memberikan gelar Ratu Tri Bhuwana Uttungga Dewi kepada Ibu Sukmawati Soekarno Putri pada 11 November 2011 lalu.
Baca Juga: SIAP-SIAP! Luhut Beri Kabar Berat Bagi Pengguna Pertalite Mulai 17 Agustus Mendatang
Tak hanya itu, AWK juga menyebut bahwa Ida Pedanda Wayahan Bun juga muput karya Ngaben (Nilapati) Bung Karno di Tampaksiring pada 10 November 2011.
Kala itu dihadiri oleh Sukmawati dan juga Wagub Bali AA Puspayoga saat itu.
Kini, Jasad Ida Pedanda disemayamkan di gedong Griya. Pihak keluarga telah berembuk dan menyiapkan rangkaian upacara untuk mengantarkan beliau.
Rangkaian upacara dimulai dengan Nyiramin layon (memandikan jenazah) tahap pertama pada 20 Juli yang bertepatan dengan bulan purnama, dilanjutkan Nyiramin layon tahap kedua pada 4 Agustus yang bertepatan dengan tilem atau bulan mati, dan upacara Ngaskara pada 7 Agustus.
Baca Juga: Perpustakaan Nasional RI Bersama Diskerpus Badung Gelar Acara Gerakan Indonesia Membaca
Puncak karya palebon akan berlangsung pada 8 Agustus 2024.
Editor : Wiwin Meliana