BALIEXPRESS.ID - Pabrik narkoba kembali ditemukan di tanah Bali. Kali ini giliran Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia yang berhasil mengungkap clandestine laboratorium narkotika di wilayah Payangan, Gianyar, pada pertengahan Juli 2024.
Pabrik tersebut diduga memproduksi narkoba jenis DMT (N,N-Dimethyltryptamine) dan ada juga Fentanyl. Perlu diketahui, Fentanyl sempat membuat gempar Amerika Serikat khususnya kawasan Negara Bagian Philadelphia, lantaran banyak warganya yang menjadi pecandu barang haram itu, sampai berprilaku seolah-olah seperti zombie.
Pengungkapan pabrik narkoba tersebut disampaikan oleh Karo Humas dan Protokol BNN RI Brigjenpol Sulistyo Pudjo Hartono, Senin (22/7).
Tersangka yang bisa diamankan oleh BNN adalah seorang Warga Negara Filipina berinisial DAS dan seorang WNI. Sementara WN Jordania inisial AMI masih buron. Terungkapnya jaringan internasional yang mengoperasikan pabrik narkoba ini bermula dari patroli siber yang dilaksanakan BNN RI terhadap adanya transaksi narkoba melalui internet. Saat dilacak, ternyata sumber narkoba tersebut berada di Bali, tepatnya kawasan Jalan Keliki Kawan, Payangan.
Sehingga, petugas melakukan penggerebekan ke lokasi yang dimaksud. Barang bukti mulai dari narkoba yang sudah jadi seperti DMT, Fentanyl, bahan-bahan, hingga alat-alatnya dapat disita. Penyitaan dilakukan di dua tempat, baik itu langsung di pabriknya, dan di sebuah tempat tinggal yang juga digunakan untuk menyimpan barang haram tersebut.
"Ini luar biasa, clandestine lab itu bahannya dibawa oleh orang kami sendiri, artinya kejahatan narkoba bergerak melalui batas negara melalui ide-ide manusia. Misalnya ahli kimia punya kawan di Amerika, beli barang di toko obat atau apotek dan lainnya, akhirnya bisa produksi narkotika. Ada keahlian, pikiran jahat, dan jaringan, sehingga jadilah kejahatan," tuturnya.
Terkuak, bahwa produksi narkoba dari pabrik yang digerebek ini dipasarkan melalu internet seperti memakai aplikasi Telegram. Brigjenpol Sulistyo menambahkan, jaringan pemroduksi DMT dan Fentanyl tersebut termasuk jaringan baru, atau bahkan pertama kali ada di Indonesia. Mereka tidak terafiliasi dengan gembong-gembong terkenal seperti Freddy Pratama.
"DMT itu banyak ditemukan di Amerika Selatan, kalau fentanyl di Amerika Serikat. DMT merupakan senyawa Triptamine Subtitusi yang banyak ditemukan di hewan atau tumbuhan, dipakai suku suku Indian untuk panggil arwah nenek moyang, untuk mendapatkan pencerahan, mau pindah kampung kah atau lainnya. Kalau Fentanyl itu seperti di Amerika bisa membuat penggunanya seperti Zombie," tandasnya.
Pabrik narkoba tersebut disinyalir sudah lama beroperasi, dan produknya sudah beredar. Namun detail seperti jumlah barang bukti, jaringan, sasaran pemasaran dan lainnya akan disampaikan oleh BNN RI melalui press release dalam waktu dekat. ****