Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menyingkap Sejarah Desa Penglipuran Bali: Dari Tempat Istirahat Prajurit Kerajaan Bangli Jadi Desa Wisata Ternama

I Made Mertawan • Selasa, 23 Juli 2024 | 15:04 WIB

 

Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali tampak sepi, Sabtu, 30 Maret 2024.
Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali tampak sepi, Sabtu, 30 Maret 2024.

BALIEXPRESS.ID- Siapa yang tidak tahu Penglipuran? Penglipuran merupakan salah satu desa wisata terkenal di Bali.

Penglipuran adalah desa adat yang masuk wilayah Kelurahan Kubu, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli, Bali.

Nama Penglipuran sudah terkenal di mancanegara karena keindahan, adat-istiadat serta budaya yang masih terjadi dengan baik. 

Kunjungan wisatawan ke Penglipuran ini rata-rata 3.000 orang per hari.

Pada hari tertentu, seperti hari libur atau diselenggarakan event, kunjungan wisatawan bisa tembus 6000 per hari.

Sejauh ini, kunjungan wisatawan masih didominasi wisatawan lokal Indonesia.

Terlepas dari tingginya kunjungan wisatawan itu, ternyata Desa Penglipuran memiliki sejarah menarik.

Terdapat sebuah penelitian Desa Penglipuran dari Universitas Atmajaya Yogyakarta.

Hasil penelitian itu mengungkap bahwa nama desa ini berasal dari dua kata, yaitu "pangeling" yang berarti "mengingat" dan "pura" yang berarti "tanah leluhur".

Menurut sejarah lisan, desa ini awalnya merupakan bagian dari Desa Bayunggede.

Dahulu kala, pada masa Kerajaan Bangli, raja membutuhkan tenaga rakyat Desa Bayunggede untuk menjadi prajurit Kerajaan Bangli.

Mengingat jarak yang jauh antara Desa Bayunggede yang berada di Kecamatan Kintamani dan pusat kerajaan, Raja Bangli memberikan tempat peristirahatan bagi para prajurit di wilayah sekitar Desa Kubu.

Tempat peristirahatan ini kemudian berkembang menjadi desa dengan penduduk yang semakin banyak.

Para prajurit yang tinggal di sana akhirnya memisahkan diri dari desa asalnya dan membentuk desa baru yang dikenal sebagai Desa Penglipuran.

Sebagai bentuk pengingat asal mula mereka dari Desa Bayungede, Desa Panglipuran membuat replika desa asalnya, baik dalam bentuk bangunan maupun tradisinya.

Hal ini dapat dilihat dari keberadaan Pura Puseh di Desa Penglipuran yang memiliki kesamaan dengan Pura Puseh di Desa Bayunggede.

Kisah asal-usul Desa Penglipuran ini menunjukkan hubungan erat antara desa adat ini dengan leluhur dan tanah leluhur mereka.

Desa Penglipuran tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi penjaga warisan budaya dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.

Sumber lain menyebutkan, Penglipuran  berasal dari kata “Lipur”  yang artinya menghibur hati. Lama-kelamaan, kata “Lipur” menjadi Penglipuran. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #bangli #Penglipuran #desa wisata #sejarah