BALIEXPRESS.ID - Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo, yang terletak di Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, tidak hanya menjadi pusat spiritual bagi umat Hindu, tetapi juga menyimpan sejarah yang unik dan penuh misteri.
Kini, Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga magnet bagi mereka yang tertarik dengan cerita mistis dan sejarah panjang yang melekat pada pura ini.
Joko Setioso selaku Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kecamatan Tegaldlimo sekaligus Bendesa Adat Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo, dilansir dari akun Youtube Hindu Channel berbagi sejarah berdirinya Pura Giri Salaka Alas Purwo yang berawal dari situs Kawitan, yang telah ada sejak tahun 1600.
Pada awalnya, situs Kawitan ini merupakan sebuah gundukan tanah.
Setelah dibuka, masyarakat menemukan bahwa gundukan tersebut berisi batu bata yang tertumpuk rapi, mirip dengan batu bata yang digunakan oleh leluhur kita untuk membangun candi. Batu bata ini kemudian dibawa pulang oleh beberapa warga dan digunakan sebagai tungku.
Namun, mereka yang membawa batu bata tersebut mengalami sakit yang tidak bisa sembuh secara medis. "Setelah diingat-ingat, mereka mengembalikan batu bata tersebut dan melakukan upacara permohonan maaf (Guru Piduka). Setelah itu, mereka pun sembuh, " ujarnya.
Sejak saat itu, situs ini mulai digunakan oleh umat Hindu untuk acara persembahyangan, terutama pada Purnama dan malam Jumat Legi serta Selasa Kliwon. Umat Hindu dari Desa Kedung Gebang Dusun Krajan yang berjumlah sekitar 400 orang menjadi pengguna awal situs ini.
Seiring berjalannya waktu, jumlah umat Hindu di Kecamatan Tegaldelimo bertambah hingga mencapai sekitar 6000 jiwa dari 1400 KK, tersebar di 9 desa. "Pada tahun 1993, setelah melalui berbagai musyawarah, diputuskan untuk membangun pura di situs Kawitan ini untuk memusatkan kegiatan spiritual, " lanjutnya.
Pada tahun 1996-1997, usulan pembangunan pura disetujui dengan syarat melakukan studi AMDAL yang kemudian digantikan dengan UKL dan UPL untuk mengurangi biaya. Pura ini kemudian diberi nama Pura Luhur Giri Salaka Alas Purwo, diambil dari nama gunung Purwo yang berarti 'hutan paling timur'.
Pura Luhur Giri Salaka telah menjadi pusat spiritual yang tidak hanya dikunjungi oleh umat Hindu dari Kabupaten Banyuwangi, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Irian Jaya. Upacara besar seperti Pagerwesi dirayakan di sini, dengan partisipasi umat dari berbagai tempat.
Pura ini juga melestarikan kearifan lokal dengan melakukan ritual suro yang merupakan tradisi masyarakat Jawa.
"Pada tahun 2015, penyengker pura diganti dari batu bata merah menjadi batu hitam, memperkuat struktur dan menjaga kesakralan pura," lanjutnya.
Hari Pagerwesi dipilih sebagai waktu untuk upacara besar (Piodalan) karena diyakini bahwa saat itu Sang Hyang Pramesti Guru sedang ber-yoga, dan Pura Luhur Giri Salaka dianggap sebagai tempat yang cocok untuk memuja beliau.
Selain kegiatan spiritual, Pura Luhur Giri Salaka juga menjaga vibrasi positif dari situs Kawitan dengan membangun menara komunikasi yang tidak lebih dari 100 meter dari situs tersebut, untuk menjaga sinyal spiritual tetap kuat.
Pura ini terletak di wilayah kehutanan yang termasuk dalam Desa Kali Pahit, Kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan Tegaldlimo sendiri memiliki 9 desa dengan total 25 pura, menjadikan daerah ini sebagai salah satu pusat spiritual Hindu di Banyuwangi. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana