BALIEXPRESS.ID - Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta, sempat membuat pernyataan yang membingungkan masyarakat. Dia menyebut ada rencana pembangunan Tol Laut di wilayahnya.
Ia menegaskan bahwa proyek ini tidak akan merusak ekosistem laut, berbeda dengan Tol Bali Mandara.
Pernyataan ini disampaikan Bupati Prasta usai menghadiri rapat paripurna di Gedung DPRD Badung, Selasa (23/7).
Ia menekankan bahwa Tol Laut bukan jalan yang dibangun di atas laut, melainkan sistem transportasi kapal yang menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan berbagai lokasi wisata di Badung.
"Bukan jalan tol di atas laut, yang ada adalah Tol Laut," tegasnya.
Bupati asal Pelaga ini pun meminta agar masyarakat tidak salah paham dan mengartikan Tol Laut sebagai jalan tol yang akan merusak keindahan pantai.
Ia memastikan bahwa proyek ini tidak akan mengganggu aktivitas surfing dan biota laut di sekitarnya.
"Apalagi anak-anak saya surfing di situ (pantai). Bahkan di beberapa daerah menjadi tempat pelatihan surfing. Jangan sampai merusak biota laut," ujarnya.
Prasta menjelaskan bahwa Tol Laut ini akan memudahkan wisatawan yang ingin menuju tempat wisata tanpa terjebak kemacetan di jalan darat.
Kapal-kapal Tol Laut akan beroperasi dari utara dan selatan, mengantarkan wisatawan ke berbagai lokasi penginapan.
"Misalkan dari Bandara Ngurah Rai supaya tidak kena jalan darat macet, nanti akan ada lalu lalang dua arah dari utara dan selatan," jelasnya.
Nah, ternyata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Badung, Ida Bagus Surya Suamba, menjelaskan bahwa istilah "Tol Laut" itu dicetuskan oleh Bupati Prasta.
Sebetulnya, yang dimaksud adalah proyek pembangunan trem (kereta listrik) di sepanjang pantai. Trem ini akan menghubungkan Bandara Ngurah Rai dengan Cemagi. Juga bukan berupa kapal seperti yang disebutkan Giri Prasta.
"Itu (trem) yang saya jelasin sebelumnya," ucapnya.
Jalur kereta listrik di pinggir pantai ini rencananya akan mulai dibangun tahun 2026. Surya Suamba mengatakan, jalur trem ini akan disediakan dengan lebar 4-6 meter di pinggir pantai. Proyek ini akan dimulai dengan pengisian pasir yang diperkirakan rampung pada tahun 2025.
“Kemudian di tahun 2026 akan dilakukan pembangunan jalannya. Namun kalau di pembahasan 2025 disetujui langsung pembangunan termasuk pengerasan jalannya, 2025 sudah bisa,” ujar Surya Suamba, Rabu (19/6).
Seluruh pendanaan proyek ini berasal dari APBD Badung dengan total nilai investasi mencapai Rp 900 miliar. Diharapkan pada tahun 2026, trem ini sudah dapat beroperasi dan melayani masyarakat.
Istilah tol laut yang dicanangkan Giri Prasta juga beda dengan konsep Jokowi saat jadi capres di tahun 2014 lalu. Tol laut Jokowi adalah jalur pengangkutan logistik yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar di Indonesia. ***
Editor : Y. Raharyo