Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mirip dengan Tanah Lot; Ini Sejarah Desa Cemagi, Ditemukan oleh Pengembara Sakti

Putu Resa Kertawedangga • Kamis, 25 Juli 2024 | 19:21 WIB

Pura Gede Luhur Batu Ngaus di Desa Cemagi, Mengwi.
Pura Gede Luhur Batu Ngaus di Desa Cemagi, Mengwi.

BALIEXPRESS.ID- Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi memiliki pemandangan yang indah layaknya Pantai Tanah Lot.

 Sebab di Desa Cemagi ada juga sebuah Pura yang menjorok ke laut.

Ternyata dalam sejarahnya desa ini ditemukan pertama kali oleh pengembara sakti.

Baca Juga: Drama Bali United Dimulai!! Mantan Pemain Buangan Ini Mulai Ungkap Bobrok Stefano Cugurra 

Bahkan Desa Cemagi pun ditemukan jauh sebelum adanya Kerajaan Mengwi. 

Hal ini tercantum dalam sejarah singkat yang tertuang dalam website Desa Cemagi.

Sejarah ini ditulis berdasarkan cerita dari penglingsir desa yang sudah definitif sejak tahun 1999.

Dikisahkan seorang pengembara sakti yang berasal dari wilayah Bali Barat yang kini disebut Gilimanuk. 

Baca Juga: KABUR! Polres Gianyar Buru Identitas Pengemudi Mobil yang Diduga Sebabkan Kecelakaan di Jalan Raya Wanayu

Ia menyusuri pantai selatan Bali menuju ke arah timur. 

Sesampainya di Pantai Semenur, napas sang pengembara itu terengah-engah. 

Di kawasan Semenur yang terkenal angker dikelilingi hutan dan bebatuan ini dirinya melakukan japa mantra. 

Kemudian tempat itu dinamakan Batu Ngaos kemudian sekarang sudah ada Pura Gede Luhur Batu Ngaus. 

Pura ini lah yang berdiri di atas batu besar menjorok ke laut layaknya Pura Tanah Lot. 

Baca Juga: Amor Ing Acintya! Terlibat Kecelakaan di Gianyar; PNS Klungkung Tewas, Kepala Terlindas L300

Sang pengembara kemudian menetap di tempat tersebut dan mendirikan sebuah desa. 

Desa tersebut awalnya disebut Mengening yang berasal dari kata Meneng, artinya tinggal. 

Nama mengening pun kini dijadikan nama dusun atau banjar di desa tersebut. 

Berlanjut dari lokasinya tinggal, sang pengembara bergerak ke arah utara. 

Di hutan tersebut banyak terdapat pohon celagi (asem), ia memberikan nama Desa Sagi. Arti kara sagi ini adalah menyuguhkan. 

Lalu lama kelamaan setelah tempat tersebut berkembang masyarakatnya menyebut Cemagi yang kemudian hingga saat ini menjadi Desa Cemagi. 

Di tahun 1950an Desa Cemagi merupakan Desa Dinas yang dipimpin oleh seotang perbekel.

Baca Juga: Rahasia Umat Hindu di Bali Membuat Bangunan Menjadi Lebih Berkharisma

Kemudian tahun 1960an, Desa Cemagi bergabung dengan Desa Munggu yang mewilayahi 25 Banjar Dinas. 

Tahun 1997 terjadi pemekaran, sehingga menjadi dua desa kembali. 

Desa Cemagi kemudian menjadi definitif (sah) pada tanggal 27 Juli 1999 melalui SK Gubernur Bali Dewa Berata, pada waktu itu. 

Kepala Desa atai Perbekel Cemagi pertama bernama Dewa Putu Gede menjabat dari tahun 2000-2008. (esa)

 

Editor : Wiwin Meliana
#desa cemagi #bali #pura #sejarah #tanah lot