BALIEXPRESS.ID- Desa Apuan yang berada di wilayah Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali memiliki sejarah yang unik.
Dikutip dari laman Desa Apuan terungkap bahwa pada zaman kerajaan atau sebelum tahun 1875, Desa Apuan merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Gianyar.
Konon, perlakuan tidak adil yang diterima rakyat Desa Apuan, terutama terkait pembayaran upeti membuat mereka memutuskan untuk berpindah ke wilayah Kerajaan Bangli.
Keputusan untuk beralih ini tidaklah mudah. Raja Bangli kala itu mengajukan syarat berupa gadai manusia sebagai tanda kepercayaan.
Rakyat Apuan yang begitu menginginkan perubahan pun menyetujui syarat tersebut.
Dua orang diserahkan sebagai jaminan, yaitu Jro Wayan Cekug (laki-laki) dan Jro Nini Tulung (perempuan).
Setelah menyerahkan dua orang, Desa Apuan resmi menjadi bagian dari Kerajaan Bangli sekitar tahun 1875.
Tak lama setelah bergabung dengan Bangli, Desa Apuan terlibat dalam pertempuran dengan pasukan dari Tampaksiring, yang masih berada di bawah kekuasaan Gianyar.
Dalam pertempuran tersebut, rakyat Apuan terdesak dan hampir kalah. Namun, sebuah peristiwa mistis menyelamatkan mereka.
Sebuah keris sakti bernama Keris Ganja Dunggul, yang konon tidak dapat dicabut dari sarungnya dipukulkan ke sebuah lesung.
Suara nyaring yang dihasilkan dari pukulan tersebut membuat pasukan Gianyar ketakutan hingga akhirnya melarikan diri.
Sejak saat itu, keris dan lesung tersebut dianggap sebagai benda keramat yang telah menyelamatkan Desa Apuan.
Lesung tersebut kemudian dibawa ke Desa Apuan. Sampai saat ini lesung itu menjadi benda sakral.
Lesung sakral itu berada di atas pohon beringin besar di perempatan Desa Apuan.
Masyarakat setempat menyebutnya Pejenengan atau Tedung Jagat.
Sumber lain menerangkan bahwa tak hanya Apuan yang memilih lepas dari Kerajaan Gianyar.
Pada saat bersamaan ada beberapa desa sekitar Apuan seperti Bangun Lemah, Abuan, Serokadan, dan Sala atau yang disebut Gebog Domas memutuskan untuk menjadi bagian dari Kerajaan Bangli. Kemudian menghadap kepada raja Bangli.
Pada intinya, keinginan Gebog Domas diamini, namun untuk lebih meyakinkan, pihak kerajaan meminta jaminan dua orang (laki-laki dan perempuan) dari Apuan.
Tokoh desa itu tidak diizinkan pulang. Apabila sampai bajeg surya (tengah hari) tidak ada dari Gebog Domas menyusul mereka, maka keduanya akan dibunuh.
Akhirnya sebelum jam 12.00, Gebog Domas datang ke kerajaan. Sejak saat itu, Gebog Domas bagian dari Kerajaan Bangli.
Namun, perjalanan mereka pulang tidak berjalan mulus. Mereka mendapat informasi telah dihadang oleh pasukan dari Kerajaan Gianyar di salah satu pertigaan di Desa Demulih, Bangli.
Untuk menghindari pertumpahan darah, akhirnya memilih jalur lain yang tembus di wilayah Tampaksiring.
Gebog Domas akan merasa aman di sana dengan pertimbangan Tampaksiring masuk kekuasaan Kerajaan Bangli.
Namun saat turun di Bukit Kembang Kuning ternyata dihadang oleh pasukan Gianyar. Perang pun terjadi.
Tokoh Apuan berusaha mencabut keris dari warangka (sarung keris), ternyata tidak bisa.
Keris itu pun dibanting di sebuah lesung yang ada di sana agar bisa tercabut dari warangka.
Ternyata lesung itu mengeluarkan suara gemuruh yang membuat musuh tunggang langgang.
Gebog Domas bisa kembali dengan selamat. Lesung itu pun dibawa ke Apuan karena dianggap penyelamat.
Kini, lesung atau pejenengan di atas pohon beringin itu diyakini menjaga desa setempat. (*)
Editor : I Made Mertawan