BALIEXPRESS.ID– Mesin pengolahan sampah menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) di TPA Peh, Desa Kaliakah, sudah mulai beroperasi dan mampu mengolah sampah eksisting menjadi RDF.
Namun, hasil produksi RDF masih belum mencapai jumlah yang diharapkan.
Bupati Jembrana, I Nengah Tamba, bersama tim terkait pengolahan sampah, kembali melakukan peninjauan ke TPA Peh pada Rabu (24/7).
Baca Juga: BNI Finance Bukukan Pembiayaan Rp2,89 Triliun pada Semester I-2024, Melesat 216 Persen
Tim yang datang mencakup Johan Agus Kurniawan (Direktur Utama PT. Wisesa Global Solusindo) sebagai penyedia mesin pengolahan sampah, Ruchiyat (MSW RDF Business Development Manager, PT. SBI) sebagai pengguna RDF, dan Marsono (Pimpinan PT. Bhakti Bumi) sebagai penyedia mesin pendukung pengolahan sampah.
"Tim kita datangkan kembali untuk mengecek ulang dan melihat dari sisi mana yang kurang. Hari ini hadir para ahli dari Bakti Bumi, SBI, Wisesa, dan tim lainnya. Kami terus bertukar pikiran, sehingga apa yang kita harapkan dan rencanakan untuk zero waste ini dapat tercapai," ujar Bupati Tamba.
Bupati Tamba menambahkan bahwa mesin pengolahan sampah sudah berfungsi dengan baik.
Namun, menurutnya, mesin pendukung lainnya perlu ditingkatkan kualitasnya untuk dapat meningkatkan produksi RDF.
"Mesin utama sudah oke, tetapi kita masih memerlukan alat-alat pendukung yang dapat menambah kecepatan produksi, seperti mesin pencacah dan mesin packing," jelasnya.
Bupati Tamba menyebut kualitas RDF yang dihasilkan sudah cukup baik, namun perlu peningkatan kualitas dan kuantitas produksi dengan penambahan mesin.
"Untuk mencapai hasil yang maksimal, kita perlu mengganti satu mesin lagi. Kita persiapkan seluruh anggaran karena kita optimis dan didukung oleh tim yang sangat kompak," tegasnya.
Ia juga yakin dengan peningkatan kualitas mesin pengolahan sampah menjadi RDF akan dapat mengatasi sampah yang menumpuk bertahun-tahun di TPA Peh.
"Saya optimis kita bisa menyelesaikan sampah eksisting dan sampah baru. Dengan sistem konveyor, target 200 ton per hari bisa tercapai," tandasnya.
Marsono, Pimpinan PT. Bhakti Bumi, menyatakan mesin saat ini sudah berfungsi baik, namun memerlukan mesin penunjang untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas RDF.
"Alat ini sudah cukup, namun untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas, kita perlu menambah alat penunjang. Alat tambahan ini tidak terlalu mahal, namun kita perlu menyesuaikan dengan kondisi sampah di Jembrana," ucapnya.
Marsono juga menyebutkan bahwa mereka akan segera mendatangkan beberapa mesin tambahan. Ia berharap dengan kelengkapan mesin ini, proses pengolahan sampah dapat semakin maksimal.
"Awalnya kami akan mendatangkan tiga unit, namun akan ada tambahan berikutnya agar produksi tetap berjalan meski saat hujan," ujarnya.
Ruchiyat, selaku MSW RDF Business Development Manager PT. SBI, mengatakan bahwa produksi RDF di TPA Peh sudah cukup baik dengan ukuran partikel maksimal 5 cm dan tingkat kelembaban di bawah 20%, sesuai standar.
"Secara produk, sudah cukup bagus. Namun, saya memberi saran untuk penambahan mesin tambahan guna mengurangi organik yang masih terbawa, karena dapat menurunkan kualitas dan harga RDF," tandasnya.***
Editor : Wiwin Meliana