Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Getol Kelola Sampah Plastik, BSI Rumah Plastik Mandiri Terbaik Kedua Nasional

Dian Suryantini • Jumat, 26 Juli 2024 | 14:25 WIB

Putu Eka Darmawan, pendiri BSI Rumah Plastik Mandiri saat menerima penghargaan di Jakarta
Putu Eka Darmawan, pendiri BSI Rumah Plastik Mandiri saat menerima penghargaan di Jakarta

BALIEXPRESS.ID – Konsistensi pengelolaan sampah plastik yang dilakukan Bank Sampah Induk (BSI) Rumah Plastik Mandiri membuahkan hasil manis.

Rumah Plastik Mandiri yang digawangi Putu Eka Darmawan itu menjadi yang terbaik kedua seluruh Indonesia.

Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Siti Nurbaya, di Jakarta pada Selasa, 16 Juli 2024.

 Baca Juga: Mesin Pengolahan Sampah di TPA Peh Mulai Beroperasi, Produksi RDF Belum Optimal

Putu Eka Darmawan, pendiri BSI Rumah Plastik Mandiri, menyatakan bahwa pencapaian ini nyaris membawa mereka meraih posisi pertama, jika saja mereka memiliki program untuk pengolahan sampah organik.

Ternyata ada 12 indikator penilaian yang menjadi standarisasi bank sampah. BSI Rumah Plastik Mandiri hanya bisa memenuhi 11 indikator.

“Satu indikator yang tak bisa kami penuhi yakni adalah pengolahan sampah organik,” ujar Eka saat ditemui di gudang Rumah Plastik Mandiri di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Kamis (25/7).

 Baca Juga: BNI Finance Bukukan Pembiayaan Rp2,89 Triliun pada Semester I-2024, Melesat 216 Persen

Eka menjelaskan bahwa BSI Rumah Plastik Mandiri tidak melakukan pengolahan sampah organik karena masyarakat Bali sudah mengenal konsep teba sebagai cara untuk mengelola sampah organik.

Teba adalah area di belakang rumah yang biasanya ditanami pohon untuk kebutuhan sehari-hari.

Sampah organik yang dihasilkan kemudian dibuang ke sana dan menjadi kompos untuk pohon-pohon tersebut.

Keberadaan teba ini membuat BSI Rumah Plastik Mandiri tidak perlu memikirkan cara tambahan untuk mengolah sampah organik.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberikan apresiasi khusus atas inovasi dan ekonomi berkelanjutan yang diciptakan oleh BSI Rumah Plastik Mandiri. Produk-produk daur ulang dari sampah plastik yang dihasilkan oleh BSI Rumah Plastik Mandiri tidak hanya laku di pasar lokal, tetapi juga digandrungi pasar mancanegara.

Penghargaan Bank Sampah Induk Terbaik pertama diraih oleh Bank Sampah Induk Kumala dari Jakarta Utara, DKI Jakarta, sedangkan posisi ketiga terbaik diberikan kepada Bank Sampah Induk Pancadaya dari Kota Padang, Sumatera Barat.

 Baca Juga: Sejarah Desa Banjar: Dahulu berupa Hutan Ilalang, Dibangun oleh Ida Pedanda Sakti Ngurah Pemade, Geriya Gede Banjar Sebagai Titik Nol Kilometer

Untuk diketahui, BSI Rumah Plastik Mandiri, dikelola Eka Darmawan sejak sekitar 2016 lalu.

Eka, yang dulu berprofesi sebagai bartender di kapal pesiar di Amerika Serikat, memutuskan untuk mengubah hidupnya dan kembali ke kampung halaman delapan tahun lalu setelah menikah. Dengan sisa uang pernikahan sebesar Rp25 juta, Eka membangun bisnis yang menggabungkan unsur bisnis dan sosial, yaitu mengolah sampah plastik.

Menghadapi berbagai tantangan biaya, Eka menggunakan kreativitas dan pengetahuan yang diperolehnya dari video YouTube untuk merancang dan membuat sendiri mesin-mesin daur ulang plastik.

Rumah Plastik Mandiri kini memiliki sembilan alat daur ulang plastik yang didesain oleh Eka dan dirakit oleh teknisi lokal.

Berkat mesin-mesin tersebut, Eka dan enam pekerjanya mampu mengolah sekitar dua ton sampah plastik per hari. Plastik yang telah dicacah menjadi serpihan dibawa ke garasi rumah Eka untuk diolah lebih lanjut menjadi papan plastik berukuran 100x50 cm yang digunakan sebagai pengganti kayu.

Produk ini telah diekspor ke berbagai negara seperti Malaysia, Taiwan, dan Spanyol, dengan harga Rp 350.000 per lembar.

 Baca Juga: Sejarah Kesiman Denpasar: Bermula dari Kisah Dalem Batu Ireng hingga Ekspedisi Gajah Mada ke Bali, Awalnya Bernama Kusima

Selain papan plastik, Eka juga menciptakan berbagai produk daur ulang lainnya, seperti furnitur, bahan konstruksi dan interior, campuran aspal, hingga produk fashion. Salah satu produk inovatif yang sedang dikembangkan adalah jam tangan daur ulang yang diharapkan bisa segera dipasarkan.

Meskipun permintaan dari luar negeri masih belum stabil, Eka tetap optimis dan kreatif dalam mengembangkan usahanya. Dengan semangat dan dedikasi, Eka tidak hanya berhasil menciptakan bisnis yang berkelanjutan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. (dhi)

 

Editor : Wiwin Meliana
#penghargaan #BSI #bank sampah #rumah plastik