BALIEXPRESS.ID- Nasi Jinggo di Bali menjadi salah satu kuliner yang melegenda, hampir seluruh lapisan masyarakat pernah merasakan kenikmatan Nasi Jinggo dengan ciri khasnya dibungkus daun pisang dengan porsi kecil.
Tidak saja dijual sebagai salah satu menu kuliner khas malam hari di Kota Denpasar dan hampir di seluruh Bali, Nasi Jinggo juga menjadi salah satu pilihan menu makanan di beberapa restoran atau hotel berbintang di Bali.
Baca Juga: Bawaslu Tabanan Temukan Potensi Besar Golput pada Pilkada 2024, Ini Penyebabnya
Meski menjadi menu makanan yang bisa ditemukan dengan mudah di Denpasar dan di seluruh Bali, ternyata keberadaan Nasi Jinggo memiliki perjalanan sejarah yaang cukup unik.
Karena nama Jinggo sendiri berasal dari nama Jenggo yang merupakan nama panggilan anak penjualnya.
Seperti apa kisah perjalanan Nasi Jinggo sampai menjadi kuliner khas wisata malam di Denpasar, padahal sebelumnya merupakan makanan bagi sopir yang sedang mengantar dagangan ke Pasar Badung dan Kumbasari ini?
Baca Juga: Bawaslu Gianyar Temukan 165 Masalah dalam Coklit, 10 Pemilih Memenuhi Syarat Tidak Masuk DPT
Chef Henry Alexie Bloem, President of Indonesian Chef Association (ICA) periode 2017-2020, menjelaskan awal kemunculan Nasi Jinggo tidak terlepas dari semaraknya aktivitas pekerja pada malam hari, seperti pedagang, buruh pasar, sopir truk, kuli angkut di pelabuhan Benoa dan pekerja lainnya di kawasan Kuta dan Pelabuhan Benoa.
"Sekitar tahun 1970-an, ibu saya membuat nasi ini untuk dijual bagi kuli-kuli Pelabuhan Benoa dan kaum pekerja di kawasan Kuta. Hingga akhirnya menjadi menu wajib bagi para pekerja setelah mereka istirahat," jelasnya.
Seperti yang diuraikan Chef Henry, nasi jinggo yang disajikan dengan porsi kecil dibungkus daun pisang dengan pada awalnya hanya menyediakan nasi dengan lauk daging babi saja.
“Sekitar tahun 1970-an, ibu saya membuat nasi ini untuk dijual bagi kuli-kuli Pelabuhan Benoa dan kaum pekerja di kawasan Kuta,” jelasnya.
Pada saat itu, dilanjutkan Chef Henry yang saat ini menjadi chef di salah satu hotel berbintang di Belanda ini, nasi yang dijual itu dikenal dengan nama Nasi Men Jenggo. Yakni nasi yang dijual oleh ibunya Jenggo.
Jenggo ini, diakuinya adalah nama panggilannya, karena dirinya adalah anak pertama, jadi ibu dari Chef Henry dipanggil Men Jenggo.
Men Jenggo yang melekat pada ibunya ini tidak terlepas dari adat di Bali yang biasa memanggil nama seorang Ibu dengan nama panggilan anak pertamanya.
Baca Juga: Optimalkan Inovasi UCOK, Disperinaker Gandeng Disdukcapil
Nama Jenggo ini, diakuinya merupakan nama panggilan Chef Henry sejak kanak-kanak, yang merupakan nama panggilan pemberian dari ayahnya yang berkewarganegaraan Belanda.
Nama panggilan ini yang melekat di lingkungan tetangganya hingga akhirnya Sang Ibu memiliki julukan Men Jenggo dan menular ke nasi bungkusnya.
"Hingga tahun 1980-an, nasi ini masih dijual di wilayah kuta dan Pelabuhan Benoa saja.Baru akhirnya pada awal 1990-an nasi ini mulai di jual di Kota Denpasar dengan ciri khas yang sama yakni nasi dengan lauk seadanya yang dibungkus dengan daun pisang," lanjutnya.
Di Kota Denpasar, menu nasi Jenggo ini juga sama dengan menu nasi Jenggo yang ada di jual oleh pedagang yang ada di kawasan Kuta. Termasuk juga pasar dari nasi Jinggo ini adalah para pekerja malam di pasar Badung, seperti kuli angkut, supir dan pedagang.
Baca Juga: Getol Kelola Sampah Plastik, BSI Rumah Plastik Mandiri Terbaik Kedua Nasional
"Seiring dengan berjalannya waktu dan jumlah nasi Jinggo sudah sangat banyak, akhirnya nama Nasi nya tidak lagi Nasi Menu Jenggo, tapi Nasi Jinggo. Lauknya PU tidak hanya daging babi. Tapi ada daging ayamnya," tambah Chef Henry.
Untuk masa modern ini, Nasi Jinggo diakuinya tetap menjadi favorit masyarakat.
Bahkan tidak jarang wisatawan yang datang ke Bali, Nasi Jinggo menjadi salah satu menu wajib yang harus dicicipi. Karena menurut wisatawan belum sah ke Bali, kalau belum makan Nasi Jinggo. (gek)
Editor : Wiwin Meliana