Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Luh Resiani Penenun Songket Beratan Samayaji; Meneruskan Tradisi Tenun Songket di Usia Senja

Dian Suryantini • Sabtu, 27 Juli 2024 | 15:45 WIB

Perajin tenun songket Beratan, Luh Resiani sedang menenun kain songket dengan motif Tambalan.
Perajin tenun songket Beratan, Luh Resiani sedang menenun kain songket dengan motif Tambalan.

BALIEXPRESS.ID – Suara cag-cag terdengar khas. Dari kejauhan Luh Resiani sedang sibuk dibalik alat tenun itu. Ia membuat sebuah kain.

Benang-benang yang bertaut pada alat tenun terlihat berada pada barisan yang sudah diatur. Kepala Luh Resiani tertunduk. Matanya yang sudah tidak setajam dulu dengan jeli memilih dan memasukkan benang-benang sutra dan benang emas.

Kombinasi benang-benang itu disusun hingga membentuk suatu motif.

 Baca Juga: Waka PN Denpasar Dilantik, Sosok Srikandi yang Dikenal Garang kepada Koruptor dan Penjahat S**sual 

Perempuan 62 tahun itu masih ingat betul cara menenun, walau sesungguhnya kini ia telah jarang melakukannya.

Resiani sudah bisa menenun sejak SD. Mungkin kala itu tahun 1977 saat ia berusia belasan tahun.

Bersama orangtuanya Resiani mengisi waktu luang memproduksi kain songket yang terbuat dari benang sutra dan emas.

 Baca Juga: Jelang Tumpek Landep, Layanan Cuci Motor Lapas Tabanan Diserbu

“Saya lupa tahun pastinya. Yang jelas sudah ikut dengan orangtua belajar menenun. Dari dulu memang membuat songket,” kata Resiani, Minggu (22/7).

Tangannya tetap pada posisi semula. Sesekali diangkat untuk mengurai benang yang bertumpuk pada cag-cag.

Proses pembuatan kain songket di Desa Pakraman Beratan Samayaji, Kelurahan Beratan, Buleleng cukup panjang.

Satu kain sepanjang 2 meter dengan lebar 60 cm dapat diselesaikan dalam waktu 1 bulan.

Tentu kain dengan ukuran itu tidak cukup jika dibalutkan ke tubuh seseorang.

 Baca Juga: Sinergi dalam Mewujudkan Pilkada 2024 yang Aman dan Damai

“Nanti disambung. Setiap 2 meter disatukan, sehingga jadi kain dengan ukuran yang pas untuk digunakan. Songket memang biasa seperti itu,” kata dia.

Bagi Resiani, menenun bukan hanya mengolah benang menjadi kain, tetapi mengolah rasa dan perasaan.

 Seorang penenun tidak boleh emosi dan mesti sabar agar produk yang dihasilkan sesuai.  Terlebih, kain songket di Beratan Samayaji ini terkenal unik dan memiliki peran-peran tertentu.

“Jangan buru-buru. Kalau buru-buru ya tidak bagus nanti hasilnya,” ungkapnya sambil menenun.

 

 

Editor : Wiwin Meliana
#penenun #tradisi #songket beratan #buleleng