BALIEXPRESS- Desa Sukawana yang terletak di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali merupakan salah satu desa tua di Bali.
Terdapat cerita yang mengisahkan sejarah Desa Sukawana, yang melibatkan seorang gadis tua yang dikenal dengan Daa Tua dan seorang pemuda bernama Nyomanan.
Dilansir dari website Desa Sukawana diceritakan bahwa dahulu kala, di kaki Gunung Wangun Urip hidup seorang wanita yang sudah tua namun belum menikah, sehingga disebut Daa Tua.
Daa Tua tinggal di tengah hutan dan hidup menyendiri. Pekerjaannya sehari-hari adalah merabas hutan untuk ditanami bawang putih atau kesuna.
Lahan hutan tersebut kemudian dinamakan Tanah Daha.
Daa Tua juga memelihara ayam putih kedas dengan suara nyaring dan merdu sebagai penghibur hati si wanita tua.
Suatu hari, seorang pemuda bernama Nyomanan mendengar suara ayam yang merdu dari dalam hutan Tanah Daa.
Penasaran, Nyomanan mengikuti suara itu dan menemukan sok (sejenis keranjang) berisi kesuna.
Pada saat bersamaan datang Daa Tua sebagai pemilik sok berisi kesuna tersebut.
Terpesona oleh kecantikan Daa Tua, Nyomanan kemudian melamarnya dan mereka pun menikah.
Dari pernikahan mereka, lahirlah keturunan yang kemudian menjadi cikal bakal penduduk Desa Sukawana.
Asal mula nama Sukawana diambil dari pertemuan pertama Nyomanan dengan Daa Tua di tengah hutan yang disebut wana.
Pertemuan keduanya diawali ketika Nyomanan menemukan sok berisi kesuna. Sehingga wilayah hutan itu diberi nama Sokwana. Lama-kelamaan menjadi Sukawana.
Setelah menikah, mereka menetap di Sokwana. Nyomanan memutuskan untuk tidak kembali ke tempat asalnya yakni di sebelah utara Sokwana.
Nyomana merupakan empat bersaudara, yang terdiri dari Tuwaan, Madenan, Nyomanan dan Ketutan.
Nyomanan juga diyakini menurunkan kraman Nyomanan di Desa Sukawana, sedangkan saudaranya bernama Tuwaan diyakini menurunkan kraman Tuwaan. (*)