BALIEXPRESS.ID - Menurut sejarawan Gora Sirikan, berdirinya Kerajaan Kesiman karena terjadi perubahan konstalasi politik kerajaan Badung.
Ketika pendiri kerajaan Denpasar I Gusti Ngurah Made Pemecutan meninggal sekitar tahun 1813, putra sulung raja bernama I Gusti Gde Kesiman meninggalkan istana untuk membangun istana baru di Kesiman.
Setelah menjadi raja, beliau memakai gelar I Gusti Gde Ngurah Kesiman.
Sejak itu, kerajaan di Badung ada tiga yaitu di Pemecutan, Denpasar dan Kesiman yang masing-masing dipimpin seorang raja.
Sejak raja Denpasar II meninggal, kerajaan Kesiman di bawah pimpinan I Gusti Gde Ngurah Kesiman makin besar dan berwibawa.
Orang-orang asing yang berkunjung ke Badung memandangnya sebagai raja yang paling berkuasa di Badung dan paling disegani.
Hal ini terjadi bukan hanya karena kemahiran dan kebijaksanaannya dalam memegang tampuk pemerintahan, tetapi juga kemampuan berkomunikasi menggunakan bahasa asing.
Tahun 1906 ketika Perang Puputan Badung meletus, istana kerajaan di Badung luluh lantak, kecuali Kerajaan Kesiman.
Sebab, menurut sejarawan Willard A Hanna yang dikutif dari buku Sejarah Puri Kesiman, ketika perang Puputan Badung dicetuskan, Raja Kesiman III dibunuh oleh penasihat kerajaan (brahmana) karena menolak memimpin pertempuran.
Sejarawan lokal menyebutkan bahwa raja Kesiman dibunuh secara pengecut oleh seorang brahmana yang menjadi mata-mata Belanda.
Sementara versi sejarah lisan menyebutkan, Raja Kesiman III sengaja meminta abdi kesayangannya untuk menikam dirinya karena dia tidak ingin dibunuh apalagi ditawan Belanda.
Namun sebelum ditikam, sang raja berkata bahwa dia dan abdinya akan terlahir kembali ke dunia.
Menurut H. van Kol, kerajaan Kesiman tidak ikut terbakar meski para raja di Badung mencetuskan untuk memusnahkan seluruh istana dan Belanda membombardir dengan meriam dari bivak Sanur.
Hanya sebagian kecil yang rusak, dan paska Perang Puputan Badung kerajaan itu diperbaiki kembali.
Tahun 1916, Controlir Belanda datang ke Kesiman, meminta kesediaan I Gusti Ngurah Made Kesiman untuk disekolahkan di Den Haag guna persiapan sebagai Raja Badung.
Karena Ngurah Made Kesiman masih berumur 19 tahun dan khawatir setelah tamat menjadi penindas rakyat, ibu kandungnya tidak mengizinkannya pergi.
Namun dampak politisnya, keluarga Puri Kesiman tersisih dalam bursa calon regent yang menganut system pemerintahan negarabestuur.
Sejak 1 Juli 1938 Belanda memberlakukan system pemerintahan zelfbestuur yang mengangkat delapan keturunan raja di Bali (kecuali Kesiman) sebagai regent (kelapa daerah) di masing-masing kabupaten yang dilantik di Pura Besakih pada 29 Juni 1938.
Sejak itu gagasan zaman raja-raja dihidupkan kembali sebagai upaya Belanda melanggengkan kekuasannya di Bali.
Tidak demikian halnya dengan Puri Kesiman. Bekas kerajaan ini terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Era tahun 1945-1949 yang disebut dengan revolusi fisik, Puri Kesiman tampil sebagai salah satu markas perjuangan pemuda revolusioner.
Salah satu keturunan raja Kesiman, I Gusti Ngurah Kusuma Yudha adalah salah satu pejuang kemerdekaan Bali.
Ia membiarkan istana warisan leluhurnya sebagai markas perjuangan. Di tempat ini para pemuda revolusioner berkumpul untuk menyusun kekuatan melawan Belanda.
Puri Kesiman dijadikan markas TKR oleh pepimpin militer Sunda Kecil Letkol I Gusti Ngurah Rai bersama seorang tokoh Puri Kesiman I Gusti Ngurah Agung Kesuma Yudha. Puri Kesiman juga memegang peranan penting dalam serangan umum Kota Denpasar.
Selanjutnya, era kemerdekaan yang dipimpin Presiden Soekarno maupun Soeharto dan seterusnya, Puri Kesiman tak pernah tinggal diam.
Kadangkala turut mendukung kebijakan pemerintah yang membela kepentingan rakyat, dan tak jarang pula berseberangan bila tak sesuai dengan amanat rakyat.
Editor : Nyoman Suarna