Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Ngerebong: Upacara Meraja Kuning, Dikaji Raja Kesiman dan Mads Lange untuk Hidupkan Perekonomian Rakyat

Nyoman Suarna • Senin, 29 Juli 2024 | 02:09 WIB
NGEREBONG: Upacara Ngerebong merupakan salah satu upaya Raja Kesiman bersama Mads Lange menghidupkan perekonomian rakyat kala itu.
NGEREBONG: Upacara Ngerebong merupakan salah satu upaya Raja Kesiman bersama Mads Lange menghidupkan perekonomian rakyat kala itu.

BALIEXPRESS.ID - Bukti sejarah keberadaan Puri Agung Kesiman tidak hanya berwujud bangunan fisik, tetapi juga Ngerebong sebagai sebuah tradisi budaya.

Ngerebong merupakan sebuah budaya spiritual yang unik dan langka.

Menurut etemologi kata, istilah Pengerebongan berasal dari kata “Rebu” yang berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuna-Bali). Kata tersebut memiliki makna pesta untuk menghibur atau membesarkan hati seseorang.

Kemudian mendapat awalan ‘Pe’ dan akhiran ‘An” menjadi Pengerebuan. Lama kelamaan kata tersebut diucapkan Pengerebuang lalu berubah menjadi Pengerebong lalu Pangerebongan.

Ritual ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali (210 hari) setelah perayaan hari Raya Galungan dan Kuningan. Pemilihan hari tersebut merupakan pengkajian multidimensi.

Menurut salah seorang sastrawan Puri Agung Kesiman, I Made Cakra Made Cakra, pemilihan hari perayaan pada hari Minggu, Wuku Medangsia didasari atas pertimbangan bahwa pada hari tersebut tidak ada upacara besar bagi umat Hindu di seluruh Bali dan Lombok.

Seminggu setelah Galungan dan Kuningan, tidak ada satu pun umat Hindu yang mengadakan pemujaan.

Pemilihan hari ini juga didasari atas penelitian dan survei Raja I Gusti Ngurah Kesiman bersama Mads Lange.

Harapannya, ketika ritual Pengerebongan dilaksanakan, pengunjung dari seluruh Bali berbondong-bondong datang ke tempat itu.

Apalagi dengan dilaksanakan ritual tabuh rah berupa aduan ayam, diharapkan para bebetoh mendatangi pelaksanaan upacara yang dipusatkan di Pura Muteran.

Secara ekonomis, hal ini akan sangat menguntungkan masyarakat Kesiman karena para pengunjung akan membelanjakan uangnya di tempat itu.

Secara spiritual, proses ritual Ngerebong identik dengan sebuah kerajaan besar yang melaksanakan keramaian bernama Meraja Kuning.

Upacara ini memiliki makna menetralisir (nyomya) sifat-sifat rajas (nafsu yang berlebihan) dalam diri setiap orang terutama mereka yang baru memasuki usia akil balik.

Upacara ini memakai sarana babi guling sebagai persembahan. Agar upacara menjadi sacral, dibuatkanlah keramaian dengan menghadirkan barong dan rangda.

Oleh I Gusti Ngurah Kesiman barong ini distanakan di berbagai penjuru kekuasaan Kerajaan Kesiman seperti Sanur, Tohpati, Kebon Kuri, Bekul, Suci Denpasar hingga Desa Sawangan, Kuta Selatan.

Pada hari Pengerebongan, seluruh barong tersebut dihadirkan untuk mengikuti ritual. Upacara yang cukup menarik serangkaian prosesi ini adalah ngunying.

Barong dan rangda dalam keadaan trans dibawa mengelilingi areal wantilan  di sisi pura setelah melaksanakan persembahyangan di dalam pura.

Saat berkeliling, puluhan orang warga kesurupan kemudian menghujam tubuhnya dengan keris dan tombak.

Editor : Nyoman Suarna
#Mads Lange #kesiman #ngerebong #perekonomian #meraja kuning #sejarah #raja