BALIEXPRESS.ID-Ajus Linggih tak menampik usulannya terkait pembangunan Kasino di Bali memunculkan pro dan kontra.
Namun pihaknya menegaskan bahwa pembangunan Kasino tidak akan merusak budaya, tradisi dan taksu Bali.
Hal itu disampaikan pria yang bernama lengkap Agung Bagus Pratiksa Linggih itu dalam podcast Jeg Bali.
Baca Juga: Usul Pembangunan Kasino di Bali; Ajus Linggih Klaim Bisa Tambah PAD Hingga Rp 13 Triliun
Lebih lanjut Ajus Linggih mencontohkan dengan adanya Kawasan ITDC Nusa Dua tidak membuat taksu Bali hilang justru membantu memelihara budaya Bali.
“Buktinya kita ada ITDC yang dulu menyelamatkan daerah tertinggal di Bali sampai dijadikan tempat KTT G20 kemarin. Apakah taksu Bali hilang? Justru membantu memelihara adat istiadat Bali,” ungkap pria yang menjabat sebagai Ketua HIPMI Bali ini dikutip pada Rabu (31/07/2024).
Lebih lanjut, Ajus Linggih memaparkan bagaimana peran Kasino yang diklaim dapat memelihara budaya Bali.
Baca Juga: Jelang Rapat Pleno DPHP Tingkat Desa, KPU Tabanan Rapat Koordinasi bersama PPK
Menurut Ajus Linggih, masyarakat Bali mengeluarkan sekitar 30% dari pendapatannya untuk kegiatan adat dan upacara.
Ini dinikmati oleh wisatawan dan dimanfaatkan oleh hotel dan resto berbagai merk mancanegara.
“Sehingga masyarakat Bali lah yang sebenarnya berinvestasi secara kolektif menarik wisatawan,” ungkapnya.
Dengan adanya Kasino di Bali maka hasil pajak dapat digunakan untuk membuat sentra-sentra canang di berbagai daerah sehingga masyarakat Hindu Bali bisa mendapatkan kebutuhan kegiatan adat secara gratis.
Baca Juga: Berkaitan dengan Pembagian Air untuk Lahan Pertanian, seperti Ini Sejarah Nama Desa Tembuku Bangli
“Sehingga uang sebelumnya dipakai untuk berkegiatan adat bisa untuk kebutuhan lain. Astungkara budaya dan adat Bali akan lestari,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ajus Linggih menyebut jika dalam usulannya dalam pembangunan kasino di Bali tidak mewajibkan orang-orang Bali untuk bermain Kasino.
“Kita bayangin dulu ITDC itu ada Kasinonya, kita sudah punya pengalaman untuk melokalisasi budaya luar tanpa harus melukai adat Bali, tanpa harus melukai anak-anak kita,” jelasnya.
Editor : Wiwin Meliana