BALIEXPRESS.ID-Luh Putu Dina Febriana Dewi pendiri Din’z Handmade yang lahir pada 14 Februari 1977, pernah bekerja sebagai akuntan di Bank Central Asia (BCA) sebelum terjun ke dunia wirausaha.
Kini perempuan yang disapa Dina fokus dengan usaha kerajinan tangan yang mengkhususkan diri pada pembuatan tas, topi, dan aksesoris dengan bahan kain pewarna alami yang ramah lingkungan.
Sebelumnya, pada 2015, ia memutuskan untuk meninggalkan BCA dan memulai usaha pembuatan abon ikan asin.
Meskipun usaha tersebut sukses dan menembus pasar internasional, ia terpaksa menghentikannya pada 2019 karena kelangkaan bahan baku.
Minat Dina terhadap menjahit muncul saat ia mengunjungi sebuah pelatihan menjahit di Desa Pemaron.
Dari situ, ia memulai perjalanan membangun Din’z Handmade, yang kini dikenal dengan produk-produk tas dan aksesorisnya yang berkualitas tinggi.
Baca Juga: Jefferson Assis Sindir Miskin Taktik, Pelatih Bali United Stefano Cugurra Pamer Tiga Trofi Liga 1
Pada awal pendirian, Dina mengerjakan segala hal sendirian, mulai dari desain hingga pemasaran.
Namun, seiring dengan bertambahnya pesanan, ia merekrut empat perempuan untuk membantu dalam produksi.
Din’z Handmade tidak hanya mengandalkan pameran untuk memasarkan produknya. Dina juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram, WhatsApp, dan Facebook, serta menjual produknya di marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan Blibli.
Meski pernah mencoba konsinyasi di pusat perbelanjaan seperti Sarinah di Jakarta, Dina menganggap toko offline di Buleleng tidak efektif dan lebih memilih fokus pada pemasaran online.
Baca Juga: Buleleng Bali Koi Festival 2024; Ajang Prestisius Sambut HUT ke-79 Republik Indonesia
Namun, perjalanan Din’z Handmade tidak tanpa kendala.
Permasalahan permodalan, bahan baku, dan sumber daya manusia menjadi tantangan yang sering dihadapi.
Dina juga mengaku kesulitan dalam mengatasi stereotip produk lokal yang dianggap kurang berkualitas dibandingkan barang luar negeri.
Meskipun demikian, Dina tetap berkomitmen pada visi usahanya untuk memproduksi barang yang ramah lingkungan.
Ia berharap Din’z Handmade dapat terus berkembang dan menjangkau pasar lebih luas dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Baca Juga: Buleleng Bali Koi Festival 2024; Ajang Prestisius Sambut HUT ke-79 Republik Indonesia
Dina percaya bahwa meskipun ia memproduksi dalam skala kecil, upayanya untuk menjaga alam dan lingkungan sangat berharga.
Dengan segala pencapaian dan tantangan yang dihadapinya, Dina Widiawan tetap berdedikasi untuk mengembangkan Din’z Handmade.
Meski menghadapi berbagai rintangan, semangatnya untuk berinovasi dan menjaga lingkungan tetap menjadi pilar utama dalam perjalanan usahanya.
Baca Juga: Ketua HIPMI Gianyar Dukung Pembangunan Kasino di Bali; Sebut Jadi Daya Tarik Wisata Ekslusif Baru
“Selama ini, saya berusaha menjaga alam dengan memproduksi barang yang ramah lingkungan. Semoga orang-orang mulai sadar pentingnya beralih ke produk ramah lingkungan,” ujarnya dengan penuh harapan. (dhi)
Editor : Wiwin Meliana