BALIEXPRESS.ID- Desa Bunutin, salah satu dari 48 desa di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Desa Bunutin berbatasan dengan Desa Ulian di sebelah utara, dan Desa Pausan, Kecamatan Payangan, Gianyar di sisi selatan.
Di sebelah barat Desa Bunutin adalah Desa Mengani dan Desa Belok Sidan. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Langgahan.
Baca Juga: KOK BISA? Kocong Overstay Hingga 191 Hari, Warganet Mengaku Heran
Sejarah nama desa ini ternyata berkaitan erat dengan seorang raja yang sangat bijaksana pada masanya, yakni Sri Aji Jaya Pangus.
Dikutip dari website Desa Bunutin, dijelaskan bahwa pada tahun 882 Masehi, Raja Sri Aji Jaya Pangus yang memerintah Kerajaan Bali, melakukan perjalanan ke Gunung Wangun Urip.
Dalam perjalanannya, Sri Aji Jaya Pangus menemukan sebuah sumber mata air yang dikelilingi oleh tanaman bun.
Baca Juga: Sejarah dan Tata Cara Magibung di Karangasem Bali, Lebih dari Sekadar Makan Bersama
Saat melintasi sumber mata air tersebut, secara tidak sengaja tanaman bun yang digunakan sebagai pegangan tercabut.
Bun tersebut mengeluarkan air. Dalam istilah Bali, air yang keluar itu disebut ngecir.
Melihat kejadian unik ini, Raja Sri Aji Jaya Pangus pun menamai tempat tersebut Buncir.
Baca Juga: Haji 2024 Sukses, Alumni PMII Nilai Pansus Haji Berlebihan dan Dipolitisasi
Sri Aji Jaya Pangus juga berkeinginan tinggal di kawasan itu. Kemudian mendirikan tempat suci bernama Pura Melamba di sekitar lokasi tersebut.
Seiring berjalannya waktu, wilayah Desa Buncir semakin ramai dihuni.
Ada 200 orang yang disebut krama satak bertempat tinggal di Buncir dan Sundingan.
Namun, bencana yang terjadi pada tahun 991 Masehi membuat sebagian besar penduduk meninggal dunia.
Hanya tujuh orang yang berhasil bertahan hidup dan membentuk sebuah kelompok yang dikenal dengan nama Seke Pitu.
Baca Juga: Nyepi Adat Desa Adat Kesimpar; Dilakukan Setengah Hari Usai Usaba Wai
Setelah berjalannya waktu, banyak penduduk dari luar menetap di Desa Buncir.
Kemudian banyak pohon bunut dan beringin tumbuh di sekitar Pura Melamba akibat penduduk kurang memperhatikan kebersihan lingkungan.
Lambat laun nama desa Buncir dan Sundingan pun berubah menjadi Bunutin. Nama ini kemudian melekat hingga saat ini. (*)
Editor : I Made Mertawan