BALIEXPRESS.ID – Made Mariani, seorang ibu di Seririt, Buleleng, Bali, telah menjalankan usaha produksi tempe dan kacang selama kurang lebih 20 tahun.
Usaha ini dimulai sebagai bisnis keluarga yang didukung oleh kebutuhan lokal, baik untuk keperluan upacara yadnya maupun makanan sehari-hari.
Produk utama yang dihasilkan perempuan dari Kelurahan Seririt, ini adalah keripik tempe, kacang, dan kedelai, dengan produksi harian mencapai ratusan bungkus.
Setiap hari, perempuan berusia 52 tahun bersama tim kecil yang terdiri dari 8 hingga 10 orang, mengolah bahan-bahan tersebut menjadi keripik tempe dan keripik kacang yang siap dijual.
Para pekerja ini seluruhnya adalah perempuan yang merupakan anggota keluarga atau tetangga yang memiliki waktu senggang.
“Para bapak biasanya bekerja di tempat lain, sementara ibu-ibu yang bekerja di sini juga mengajak anak-anak mereka,” ujar Mariani.
Dalam sehari, tepung yang digunakan bisa mencapai 30 kilogram, kacang sekitar 8 kilogram, kedelai 10 kilogram, dan tempe yang digunakan berkisar antara 40 hingga 45 papan.
Produk-produk ini kemudian dijual ke pasar atau diambil oleh toko-toko setempat.
Awalnya, produk Made didistribusikan ke tempat yang lebih jauh, seperti dari desa Goris, Kecamatan Gerokgak.
Namun, sekarang distribusinya lebih terfokus ke daerah setempat karena biaya transportasi yang semakin mahal.
Made merasa penting untuk menjaga kelangsungan usaha ini meskipun biaya produksi dan bahan baku terus meningkat setiap minggunya, termasuk harga minyak yang melonjak tinggi.
Setiap bal produk berisi sekitar 12 bungkus. Untuk kacang dan kedelai, masing-masing bungkus berisi dua keping, sementara tempe biasanya satu atau dua bungkus.
Meski menghadapi tantangan kenaikan harga dan biaya produksi, Made tetap berusaha menjalankan bisnis ini agar terus berjalan dan dapat memberikan penghasilan bagi pekerjanya.
“Sekarang apa-apa mahal. Jadi tetap usaha. Kalau dihitung-hitung takutnya tidak dapat untung nanti. Saya kan harus gaji karyawan juga,” tambahnya.
Usaha keripik ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi para IRT di Seririt. Mereka kini memiliki penghasilan tambahan yang cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain itu, mereka juga merasa lebih berdaya dan percaya diri karena mampu berkontribusi secara ekonomi bagi keluarga.
Tidak hanya itu, usaha ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar. Beberapa IRT yang telah sukses dengan usaha keripiknya mulai merekrut tetangga-tetangganya untuk membantu dalam proses produksi.
Dengan demikian, usaha keripik ini tidak hanya menguntungkan para IRT yang terlibat langsung, tetapi juga masyarakat sekitar.
Meskipun telah meraih kesuksesan, usaha keripik ini tidak lepas dari tantangan. Persaingan dengan produk keripik yang sudah lebih dulu ada di pasaran merupakan salah satu tantangan terbesar. Namun, para IRT di Seririt tidak menyerah.
“Ini sudah menipis sekali. Jadi harus pintar-pintar mengelolanya supaya tetap jalan. Biar sama-sama jalan. Sering galau juga mau produksi atau tidak. Kalau lihat karyawan diam, kasihan juga. Jadi semangatin aja,” tuturnya. ***
Editor : Y. Raharyo