BALIEXPRESS.ID - Bocah bule Ukraina yang dijuluki Si Kocong yang kerap berkeliaran di Ubud, Bali, akhirnya dideportasi. Dia harus meninggalkan Bali.
Saat tahu akan kembali ke Ukrania, bocah berinisial BS ini sedih harus berpisah atau meninggalkan Bali.
Dia sempat menangis dan merajuk kepada ibunya. Dia ngamuk.
Tapi mau bagaiamana pun, Si Kocong dan ibunya harus meninggalkan Indonesia karena telah over stay.
Diketahui, Kocong dan ibunya datang ke Bali pada 21 Desember 2023 lalu menggunakan visa on arrival atau visa kunjungan sebagai turis.
Namun, sampai masa berlakunya habis, dia tidak memperpanjang VoA. Bahkan over stay sampai 191 hari sejak Januari 2024.
Selama over stay itu, bunya sedang berupaya mencari uang untuk kembali ke Ukraina. Namun, uang belum terkumpul.
Selama overstay dan kehabisan uang di Bali, Kocong dan ibunya ditampung oleh beberapa orang lokal.
"Ada warga menampung WN Ukraina, ada komunitasnya, ada warga lokal yang menyiapkan akomodasinya," kata Kepala Imigrasi Denpasar Ridha Sah Putra, Rabu (8/8/2024).
Sedangkan ayah dari Kocong ada di Norwegia. Nah, selama masa mengumpulkan uang untuk kembali ke negaranya, Kocong keliaran di jalanan.
Dia tanpa sandal, bertelanjang dada, kerap membawa arit atau kapak hingga memanjat pohon kelapa, mangga, hingga rumah warga.
Karena aksinya viral di media sosial, banyak netizen yang merasa kasihan kepadanya.
Hingga pihak Imigrasi mengecek keberadaan Si Kocong yang selama ini tinggal di Peliatan, Ubud, Gianyar.
Mereka pun dibawa ke Rumah Detensi Imigrasi untuk proses deportasi. Pihak Imigrasi sudah berkoordinasi dengan pihak Kedutaan Besar Ukraina.
Selama di Detensi Imigrasi, mereka sempat dijenguk oleh teman-temannya dari Ukraina bahkan dibelikan tiket pulang.
Sebelum berangkat pulang kampung, sang ibu SB berkata, dengan rasa hormat dan cinta bahwa Indonesia sangatlah indah.
Bahkan, katanya, Bali sudah terpatri di hati mereka.
"Dengan hormat dan rasa cinta, Indonesia sangat indah, tapi Bali ada di hati kami. Semua hal yang terjadi di sini bagi saya menunjukkan keramahan dan cinta," ucapnya.
Wanita itu mengaku tidak kecewa dipulangkan ke negara asalnya. Karena baginya ini adalah proses yang normal. Bahkan, dia mengaku kemungkinan akan datang lagi ke Bali tahun depan.
"Bagi kami ini tentang keterbukaan. Waktu kami di sini adalah waktu yang ajaib," pungkasnya. ***
Editor : Y. Raharyo