Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Prediksi Kemenangan PDIP di Pilkada Bali: Potensi Kuat di Wilayah Ini, Tantangan Ada di Buleleng

Rika Riyanti • Kamis, 8 Agustus 2024 | 19:12 WIB

pengamat politik dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), I Nyoman Subanda
pengamat politik dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), I Nyoman Subanda

BALIEXPRESS.ID- PDIP diprediksi masih kuat menyapu kemenangan di beberapa wilayah di Bali.

Sebut saja di wilayah Denpasar, Badung, Bangli, Tabanan hingga Gianyar. Demikian disampaikan pengamat politik dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), I Nyoman Subanda.

Namun, menurut Subanda, dengan adanya Pilkada serentak, tak bisa keroyokan saling membantu dengan daerah lain.

“Sekarang partai politik pecah. Ada di Gubernur, kemudian di Pilkada fokus daerahnya masing-masing,” ucapnya, Rabu (7/8).

 Baca Juga: Sosok Mantan Rektor Unud Prof. I Nyoman Gde Antara yang Meninggal Dunia, Ahli Bikin Material Canggih Jebolan Kampus Luar Negeri

Pihaknya pun menggambarkan potensi kemenangan PDIP di setiap kabupaten/kota di Bali berdasarkan pengamatannya. Untuk di Jembrana, ia melihat, saat ini masih sama-sama kuat.

Pasangan Kembang dan Ipat yang diusung PDI Perjuangan kuat dikarenakan di belakangnya ada I Gede Winasa di belakangnya ditambah dengan Ipat yang merupakan incumbent wakil.

“Kemarin memang Tamba menang, tapi sekarang berbeda, incumbent terbagi Ipat gabung ke Kembang, kemudian di belakang Ipat ada Pak Winasa yang punya pengaruh dan masa. Dan saya kira imbang,” jelasnya. 

 Sehingga saat ini tergantung strategi, keseriusan mesin politik, dan timses.

“Jika Kembang all out, bisa saja akan berbalik dan Kembang Ipat menang,” imbuhnya. 

 Baca Juga: Mengenang Prof Gde Antara; Rektor Unud dari Fakultas Teknik, Terjerat Kasus Korupsi Dana SPI Hingga Divonis Bebas

Selanjutnya, potensi di Tabanan menurutnya lawan PDI Perjuangan tidak terlalu kuat.

Ia menilai, PDIP hanya bisa kalah jika pentolan-pentolan PDIP membelot. Dan jika Sanjaya - Dirga duet di Tabanan, menurutnya kemenangan akan lebih mudah diraih.

Begitujuga untuk Bangli yang kemungkinan besar PDI Perjuangan akan menang. Apalagi yang akan diusung adalah incumbent, meskipun tidak terlalu maju, namun ada beberapa infrastruktur yang sudah dibangun. “Lawan tidak ada muncul, bisa dikatakan stagnan, biasa saja, apalagi PDI Perjuangan menguasai di sana,” ungkapnya. 

PDIP dikatakannya kemungkinan bisa dikalahkan jika ada lawan yang kuat di wilayah Kintamani. Namun karena tak ada lawan kuat yang muncul, kemungkinan besar PDIP akan menang.

 Kondisi ini juga menurutnya serupa dengan Gianyar. Hanya saja, di Gianyar pengaruh puri masih kuat khususnya Puri Ubud. PDIP akan semakin kuat jika mengadopsi unsur puri ini, dan dengan adanya wakil dari Puri Gianyar, kemenangan juga diprediksi jatuh pada PDIP. 

 Baca Juga: Si Kocong Bocah Bule Ukraina Nangis, Sang Ibu: Indonesia Indah dan Bali di Hati, Akan Kembali Tahun Depan

 Selain itu, PDIP juga harus mampu memegang kawasan Ubud, Sukawati dan daerah asal incumbent yakni Mahayastra.

 Menurut Subanda, yang saat ini cukup sulit malah Buleleng. Hal ini dikarenakan calon yang kemungkinan diusung yakni Sutjidra dan Gede Supriatna yang menurutnya elektabilitasnya tidak terlalu tinggi.

“Sebenarnya ada tokoh yang tinggi yakni Rochineng tapi tidak dipilih dan bukan kader lama,” terangnya. 

 Selain itu, saat ini pentolan PDIP yang juga mantan bupati yakni Putu Agus Suradnyana juga berseberangan yang kemungkinan jadi faktor penggembos suara.

“Cuma belum tentu juga berpihak ke lawan, karena PAS ini juga tidak cocok dengan Sugawa Korry yang kemungkinan diusung KIM,” katanya. 

 Sehingga menurutnya, kemungkinan PDI Perjuangan menang di buleleng masih 50 50. Dan berkaca dari perhelatan Pileg, menurutnya penentu kemenangan adalah logistik dan investasi sosial.

“Sehingga yang diperlukan di sini adalah logistik, investasi sosial, dan tim sukses di desa yang kuat,” ucapnya. 

 Baca Juga: Si Kocong Bocah Bule Ukraina Nangis, Sang Ibu: Indonesia Indah dan Bali di Hati, Akan Kembali Tahun Depan

Kabupaten Karangasem, ia melihat saat ini I Gede Dana masih diterima oleh para birokrat dari tingkat desa hingga ke atas. Meskipun prestasinya dianggap biasa saja, namun koordinasi dan komunikasi dengan birokrat masih bagus sehingga bisa menjadi modal.

Namun, saat ini diperlukan partner yang bagus dikarenakan wakil bupati saat ini tak bisa maju lagi. Selain itu, muncul batu sandungan paket independent yakni Kari Subali dengan Ismaya. Dimana menurutnya, Kari Subali memiliki elektabilitas cukup tinggi meskipun beberapa kali ganti partai.

“Dan kita juga harus ingat, Karangasem ada riwayat didukung banyak tokoh PDI, dan saat itu hampir imbang dengan Mas Sumatri. Bahkan saat itu setiap kecamatan sudah ada yang pegang. Dan berbeda dengan sekarang karena semua fokus pada daerah masing-masing,” tuturnya. 

Namun, menurutnya tak ada calon yang menojol dari KIM untuk menandingi PDIP, sehingga masih ada peluang untuk periode kedua. Kemudian untuk Denpasar menurutnya yang paling santai.

Hal ini dikarenakan PDIP sangat solid, pasangan yang diusung juga selaras dan didukung legislatif. Meskipun ada lawan dari KIM dengan menyodorkan Ambara Putra, namun kemungkinan akan mengulang sejarah kekalahan pada Pilkada sebelumnya. Dan KIM akan bisa menang jika ada sesuatu yang sangat luar biasa. 

 Baca Juga: Duka Mendalam: Hotman Paris Kenang Prof. Gde Antara, Unggah Momen Saat Vonis Bebas dari Kasus Korupsi

 Hanya saja di Denpasar ada banyak hal yang bisa digunakan untuk bahan kampanye hitam seperti masalah sampah, transportasi berupa kemacetan, termasuk totoar di media sosial juga sempat ramai. “Sebenarnya itu problem umum dan kebetulan ada permasalahan yang harusnya kewenangan provinsi ada di Denpasar. Seperti kemarin di Jalan Ahmad Yani itu kan kewenangan PU Provinsi,” katanya. 

 Kemudian untuk Klungkung saat ini menurutnya kekuatan PDIP dan Gerindra juga seimbang. Namun petahana yakni Made Kasta menurutnya cukup diterima di kalangan birokrat apalagi dikenal santun, hanya saja lemah dalam hal logistik. Akan tetapi sedikit sulit untuk dibaca saat ini setelah berlabuhnya Suwirta ke PDIP dan PDIP juga sudah mulai bergerak untuk membuat strategi berbeda.

“Saya sempat tanya orang PDIP, katanya Satria yang dipasangkan dengan satu tokoh puri. Dan kalau itu terjadi, sebenarnya imbang keduanya,” jelasnya. 

 Baca Juga: Mengejutkan! Ternyata Ini Alasan Si Kocong Bocah Bule Ukrania di Ubud Bali Kerap Tidak Pakai Sandal

Sementara di Badung, dirinya melihat ada beberapa kali utak-atik yang tidak resmi antara Adi Arnawa, Gus Bota dan Bima Nata. Namun menurut survei, elektabilitas tertinggi ada pada Adi Arnawa - Gus Bota. Meskipun KIM menyodorkan pasangan Suwiyasa - Diesel, jika berhadapan head to head dengan Adi Arnawa - Gus Bota, menurutnya kemenangan masih berpihak pada PDIP.

“Suiyasa sudah bergerak lama bahkan sebelum Pilpres dan Pileg dan punya investasi politik dengan bansos termasuk saat Galungan. Dan Diesel juga punya segmen pasar yang kuat. Tapi dari survei, jika pasangan ini head to head, Adi Arnawa masih di atas, karena birokrat, Sekda yang representatif mewakili manajemen pemerintahan, menata perencanaan, dan pembangunan,” tutupnya.(ika)

 

 

Editor : Wiwin Meliana
#pilkada bali #kemenangan #pdip #potensi #Nyoman Subanda