Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Penyebab Hilangnya Keris Peninggalan Majapahit di Bali: Yang Terakhir Paling Banyak Terjadi

Nyoman Suarna • Jumat, 9 Agustus 2024 | 02:03 WIB
RAIB: Beberapa keris pusaka warisan Kerajaan Majapahit telah raib dari Bali karena beberapa faktor penyebab. Kini tak diketahui lagi rimbanya.
RAIB: Beberapa keris pusaka warisan Kerajaan Majapahit telah raib dari Bali karena beberapa faktor penyebab. Kini tak diketahui lagi rimbanya.

BALIEXPRESS.ID- Perjalanan keris-keris dari Jawa ke Bali tak terlepas dari sejarah raja-raja Jawa.

Menurut sejarah, sebelum Majapahit mencapai puncak kejayaan lewat tangan raja Hayam Wuruk dan Maha Patih Gajah Mada, di Pulau Bali terdapat sebuah kerajaan besar bernama Bedahulu.

Raja yang memerintah pada masa itu adalah Sri Gajah Wahana atau Sri Tapolung dengan gelar Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten.

Dalam kepemimpinannya beliau mempunyai seorang mangkubumi bernama Ki Pasung Grigis.

Ia dibantu Ki Kebo Iwa yang tinggal di Desa Blahbatuh. Kedua mahapatih ini merupakan kunci pertahanan Kerajaan Bedahulu.

Pada masa pemerintahan Ratu Tri Bhuwana Tungga Dewi di Kerajaan Majapahit, Raja Bedahulu tidak mau mengakui kekuasaan Majapahit.

Kerajaan Bedahulu hanya mau tunduk kepada Kerajaan Daha yang sudah menjalin hubungan sejak pemerintahan Raja Udayana Warmadewa.

Sejak persaingan dua kerajaan Daha dan Singasari di Jawa Timur, Bali sudah menjalin hubungan baik.

Hanya saja hubungan dengan Kerajaan Daha lebih harmonis dibandingkan Singasari.

Karena itu pada masa kejayaan Raja Kertanegara, Singosari mengirim salah seorang patihnya bernama Kebo Parud untuk mengawasi pulau ini.

Ketika Singasari kembali ditaklukkan Daha, kekuasaan atas Bali kembali berada di tangan Kerajaan Daha.

Baca Juga: FIX! Ini Pasangan Cabup-Cawabup Buleleng Rekomendasi DPP Golkar

Ketika Daha ditaklukkan Majapahit, Bali masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Daha.

Inilah yang membuat penguasa Bali Sri Asta Sura Bumi Banten tidak mau tunduk.

Akibatnya Patih Gajah Mada bersama para ksatrya Majapahit melakukan penyerangan terhadap kerajaan Bedahulu.

Raja dan para patih Bali berhasil ditaklukkan. Setelah ditundukkan Majapahit, terjadi kekosongan pemimpin di Bali.

Kesempatan itu digunakan sisa-sisa laskar Bali dan rakyat mengadakan pemberontakan.

Atas usulan para kesatrya dan mantan pejabat kerajaan Bedahulu yang masih hidup, ditugaskanlah Dalem Ketut Kresna Kepakisan sebagai Adipati Majapahit di Bali.

Untuk mencegah terjadinya pemberontakan, Gajah Mada menyerahkan sejumlah pusaka kepada raja dan para pembantunya, termasuk para kesatrya Bali yang tunduk kepada Majapahit.

Beberapa pusaka yang diboyong ke Bali di antaranya Si Gajah Dungkul atau disebut juga Si Jangkung Mangilo yang dapat memberikan kewibawaan dan keberanian.

Sebuah pusaka istimewa yang diberikan untuk Adipati Kresna Kepakisan bernama Si Lobar.

Pusaka ini sebagai azimat kewibawaan dan kebijaksanaan bagi seorang pemimpin karena pada masa itu Adipati Kresna Kepakisan merasa putus asa menghadapi pemberontakan dan berkehendak mundur dari jabatannya sebagai adipati di Bali.

Dengan pusaka tersebut, Dalem Ketut Kresna Kepakisan mampu mengendalikan huru-hara yang terjadi di Bali dan sejak itu keris Si Lobar menjadi symbol wibawa raja-raja Bali.

Sementara itu, generasi penerus Raja Klungkung, Dalem Ketut Ngulesir juga mendapat hadiah keris Ki Sudamala saat menghadiri pertemuan di Majapahit

Berbagai peristiwa yang terjadi di kerajaan Samprangan, Gelgel dan Semarapura membuat keris-keris pusaka itu tak jelas keberadaannya.

Keris Tanda Langlang dan Si Lobar tak jelas rimbanya. Keturunan raja Bali di Kabupaten Klungkung ini juga tidak tahu ke mana keris itu menghilang.

Apakah menghilang bersama pemiliknya  atau dibawa penjajah Belanda pasca Perang Puputan Klungkung, 28 April 1908.

Selain dua pusaka tersebut, keris Nagapasah pemberian Majapahit kepada keturunan Kresna Kepakisan saat menghadiri rapat raja fasal di Majapahit sebelum kerajaan besar itu runtuh, juga tak jelas rimbanya.

Konon keris Nagapasah ini bertuah sebagai media untuk menyatukan pikiran Raja Majapahit dengan Raja Bali.

Banyak orang memfilosofikan keris sebagai lambang hidup manusia, symbol kekuasaan atau derajat sehingga keris menjadi istimewa.

Karena keris diperlakukan istimewa sejak proses pembuatan dan perawatan, benda ini diyakini memiliki energi atau tuah.

Keris diyakini memiliki dimensi suara, warna dan rupa. Keris bisa mengeluarkan suara jika didengarkan dengan telinga waskita.

Demikian juga spektrum warnanya ada yang merah, jingga, kuning, biru, ungu, hijau dan putih.

Sementara getarannya bisa dirasakan dalam sensasi panas atau dingin.

Getaran itu sendiri berasal dari empat macam, yaitu getaran alam dari Tuhan sesuai sifat bahannya.

Getaran dari sang Mpu pembuat keris saat proses pembuatan yang disertai ritual.

Getaran doa dan makhluk halus yang menempati pusaka tersebut.

Dalam setiap waktu akan terjadi berbagai peristiwa. Raibnya pusaka-pusaka Majapahit di Bali seiring juga dengan perjalanan waktu dengan berbagai peristiwa yang terjadi.

Pertama, mungkin terjadi saat perang, baik perang antar kerajaan di Bali atau perang melawan penjajah Belanda dan Jepang.

Kedua, karena kurang perhatian sehingga roh yang bersemayam di tubuh keris tersebut menggaib dengan bendanya.

Kemungkinan ketiga adalah keris memancarkan energi kontra dengan pewarisnya sehingga keris dianggap mendatangkan kesialan lalu dibuang.

Keempat adalah alasan ekonomi. Keris memiliki nilai jual tinggi lalu dibeli kolektor benda pusaka.

Bukti menyebutkan bahwa banyak keris pusaka Bali berada di museum-museum luar negeri.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #keris #majapahit