BALIEXPRESS.ID- Sebuah kebun lengkap dengan tanamannya teronggok di sudut sekolah SDN 3 Alasangker.
Kebun itu merupakan kebun organik yang dirancang sebagai apotek hidup. Kebun organik di sekolah itu dikembangkan oleh Rotary Buleleng Sakti.
Dalam perjalanannya, kebun ini digunakan sebagai media pembelajaran mengenai tanaman obat. Tanaman yang ada di kebun nantinya dapat diolah menjadi asupan nutrisi bagi siswa sebagai upaya pencegahan stunting.
President of Rotary Club Indonesia, Ni Luh Putu Gunatri, mengatakan bahwa program ini merupakan inisiatif dari Rotaract Club Buleleng Sakti (RCBBS), dengan dukungan penuh dari Rotary Buleleng Sakti.
Program kebun organik ini merupakan bagian dari upaya untuk mengimplementasikan program pemerintah dalam mencapai Indonesia Emas Bebas Stunting 2045.
"Tujuan kami adalah mengupayakan setiap sekolah memiliki kebun organik sehingga menghasilkan tanaman sehat dan makanan sehat untuk anak-anak. Ini akan meningkatkan gizi mereka dan memberikan pengetahuan tentang kebun organik serta membangun karakter anak yang peduli terhadap lingkungan dan pertanian," ujar Gunatri.
Baca Juga: Turnamen Tenis Lapangan, Korpri Badung Raih Juara I
Gunatri menambahkan bahwa pilot project ini merupakan yang pertama di Buleleng dan diharapkan dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah lain.
"Selanjutnya, kami berencana menyasar SD lain lagi, tergantung dari kesediaan pihak kepala sekolah masing-masing. Sekarang ini kami selesaikan dulu pilot project di SD 3 Alasangker. Jika evaluasi menunjukkan hasil yang baik, tentu kami akan mengajak SD-SD lain untuk bergabung," tambahnya.
Sementara itu, Kepala SD Negeri 3 Alasangker, Nyoman Suarmika mengungkapkan keberadaan kebun organik di sekolah membantu siswa dalam proses pembelajaran.
Siswa tidak hanya mengenal materi secara teori namun dapat melihat langsung bentuk aslinya, sehingga pemahaman para siswa menjadi lebih maksimal.
Baca Juga: Dulu Hanya Sebuah Desa Nelayan, Begini Sejarah Pantai Lovina yang terkenal di Bali Utara
"Kami sangat mendukung program ini sebab ini membantu kami juga dalam proses pembelajaran di sekolah," kata dia.
Saat ini SDN 3 Alasangker telah memiliki enam demplot. Setiap kelas mendapatkan satu demplot untuk dikelola bersama. Secara tidak langsung, para siswa juga belajar cara berkebun.
"Jadi masing-masing kelas punya tanggungjawab atas demplot yang mereka kelola itu. Setelah panen, demplot akan digilir ke kelas berikutnya," tambahnya.
Dengan metode ini, diharapkan siswa dapat merasakan langsung proses bercocok tanam dan merawat tanaman.
Baca Juga: Dulu Hanya Sebuah Desa Nelayan, Begini Sejarah Pantai Lovina yang terkenal di Bali Utara
Hasil panen dari kebun organik ini akan digunakan dalam berbagai proyek sekolah, salah satunya proyek P5, yang melibatkan keterlibatan aktif siswa dalam pengembangan produk organik.
"Bila hasil panen melebihi kebutuhan, kami akan memasarkan produk tersebut. Program Kebun Organik di SD Negeri Alasangker diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah lain dalam mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum sehari-hari," tutup Suarmika. (dhi)
Editor : Wiwin Meliana