BALIEXPRESS.ID - Mantan Bupati Jembrana 1980-1990 Ida Bagus Ardana, 84, dan istrinya, AAA Ayu Sri Wulan Trisna, 64, ditemukan tewas bersamaan di dalam rumahnya di Jalan Gurita 4 Nomor 6, Lingkungan Karya Dharma, Kelurahan Sesetan, Denpasar Selatan.
Kematian keduanya masih diliputi kejanggalan dan masih menjadi misteri. Sebab, keduanya ditemukan tewas bersamaan.
Menurut penuturan warga sekitar, keluarga ini tidak terlalu berbaur, sehingga tak ada yang menyadari kematian mereka.
Kelian Tempekan Lingkungan Karya Dharma Wayan Kartawan, 56, mengakui jarang bertemu dengan Ida Bagus Ardana meski yang bersangkutan sudah tinggal di sana sejak era 90-an.
Walau rumahnya dekat, Kartawan mengaku sehari-harinya jarang bertemu. Kalaupun pernah melihat adalah ketika Ardana olah raga atau istrinya mebanteng.
"Saya tinggal di gang sebelah, tidak jumpa sehari-hari, saya pernah ketemu dengan mereka pada Oktober 2023, selain itu ketika bawa surat pada Maret 2024," tuturnya, Jumat (9/8).
Sementara itu warga bernama Putu Umbara, 51, yang juga tinggal dekat TKP mengatakan dirinya baru tahu bahwa Ida Bagus Ardana hanya tinggal berdua dengan istrinya.
Beberapa bulan belakangan korban juga sudah jarang terlihat. Ida Bagus Ardana yang biasanya jogging setiap pagi, tak tampak melakukan rutinitas itu lagi.
"Kalau istrinya itu istri kedua. Kesehariannya, biasanya ditengokin. Tapi dalam sebulan ini tumben dari yang saya lihat tidak ada yang nengokin. Biasanya ada datang anaknya. Tapi ya saya kesibukan, tidak terlalu memperhatikan," tandasnya.
Situasi rumah tersebut memang biasanya terlihat sepi. Tidak ada CCTV maupun anjing peliharaan.
Setiap malam lampu pagar akan menyala. Ditambahkannya, Ida Bagus Ardana dan istrinya Ayu Sri Wulan Trisna tidak terlalu bergaul dengan warga sekitar lingkungan tersebut.
Selain itu, mereka tidak bergabung dalam grup WhatsApp.
"Tidak bergaul sama warga, itu masalahnya, padahal kami ada grup WA banjar. Karena kami saling sapa itu di grup WA. Nah dia di grup ndak ikut. Grupnya aktif. Tapi anaknya beliau juga tidak ada di grup, saya saja terkahir ngobrol tatap muka dengan beliau tiga tahun lalu,' ucapnya.
Sehingga, Umbara juga tak mengetahui apakah korban punya riwayat sakit, atau ada hal lain yang menyebabkan pasutri tersebut meninggal bersamaan.
Kepala Lingkungan Karya Dharma Putu Gede Igar Bramandita menjelaskan bahwa Ida Bagus Ardana cukup komunikatif mengenai masalah lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
"Pernah waktu ini ada masalah parkir di depan rumahnya, beliaunya tidak bisa keluar. Tapi itu dua tahun lalu. Kalau saya menilai bapaknya ramah baik kalau ada apa-apa itu info ngasih tau begini kurang. Kalau ada kurang-kurang pasti telepon," terangnya.
Sebagaimana diketahui, peristiwa meninggalnya mantan Bupati Jembrana dan istrinya tersebut dia ketahui pada Kamis (8/8) sekitar pukul 18.35 WITA.
Bram ditelepon oleh tetangga korban. Bahwa rumah Ida Bagus Ardana sudah tiga hari dikunci dan tidak ada aktivitas, juga kondisinya kotor. Anak dan menantu korban juga datang ke TKP, lantaran Ida Bagus Ardana dan Ayu Sri tak merespons meski sudah ditelepon berkali-kali.
Selanjutnya, anak, menantu masuk ke dalam rumah dengan cara melompati pagar. Namun baru sampai di depan garase, mereka mencium bau busuk. Sehingga meminta menghubungi polisi, pecalang, hingga dokter.
Kemudian ketika petugas sudah tiba, anak dan menantu korban meminta membongkar gembok pintu rumah menggunakan gerinda. Mereka lantas mengecek ke dalam. Ditemukanlah Ida Bagus Ardana dan istrinya tewas di tempat terpisah di dalam rumah.
Setelah itu kepolisian melaksanakan pemeriksaan. Petugas terpantau cukup lama berada di dalam rumah tersebut. Turut hadir Kasat Reskrim Polresta Denpasar Kompol Laorens Rajamangapul Heselo, hingga Kapolsek Denpasar Selatan Kompol Herson Djuanda.
Baca Juga: Makna Yadnya dalam Kehidupan Umat Hindu Bali: Menyempurnakan Hidup Melalui Persembahan Suci
Usai pemeriksaan, jenazah dievakuasi menggunakan ambulans BPBD Kota Denpasar. Namun, baik Laorens maupun Herson yang coba dimintai keterangan mengenai peristiwa itu di TKP enggan memberikan komentar. ***
Editor : Y. Raharyo