BALIEXPRESS.ID– Harga kopi robusta di pasar dunia tercatat mengalami kenaikan sejak beberapa bulan lalu.
Untuk bisa mengakses pasar yang lebih luas dengan sistem pembayaran yang terintegrasi, petani kopi di Kabupaten Tabanan mulai memanfaatkan aplikasi digital Postalasi.
Baca Juga: Golkar Jadi Penentu Pilkada Bangli 2024, Head-to-Head atau Kotak Kosong, Begini Hitung-hitungannya
Ketua Kelompok Tani Subak Abian Batur Cepaka Pupuan Nyoman Kasim di Desa Gadungan, Kabupaten Tabanan, menyatakan dengan pemanfaatan aplikasi digital ini, para petani bisa menjual produknya langsung ke produsen tanpa perantara, sehingga kondisi ini menguntungkan para petani.
"Dengan memanfaatkan aplikasi ini, kami sangat terbantu untuk bisa mengakses pasar yang lebih luas. Dengan jaminan pembayaran yang terintegrasi langsung kepada kami," jelasnya di Desa Gadungan Jumat (9/8).
Baca Juga: Melalui Hold Me Tight, Luna Ingin Ramaikan Blantika Musik Bali
Dengan adanya pemanfaatan aplikasi ini, Nyoman Kasim mengakui pihaknya bisa memangkas rantai pasok yang panjang, salah satunya adalah memotong rantai tengkulak.
Sehingga keuntungan harga jual kopi bisa dimanfaatkan secara penuh oleh petani.
Seperti saat ini,disebutkan Nyoman Kasim, harga kopi robusta yang sebelum dijual melalui aplikasi hanya dihargai Rp 7,5 juta per kuintal untuk grade kopi asalan (kopi campuran), setelah dijual dengan aplikasi atau dengan sistem digital, harga kopi robusta grade asalan ini naik Rp 100 ribu,atau menjadi Rp 7,6 juta per kuintal.
"Dengan adanya kenaikan harga ini, kami merasa sangat terbantu. Sehingga ke depannya kami bisa terus mengembangkan grade yang sesuai dengan permintaan pasar," tambahnya.
Baca Juga: Penumpang Bandara Ngurah Rai Bali Tembus 13 Juta Orang pada Januari-Juli 2024
Head of Supply Chain Talasi Dedy Supriatna menjelaskan, sebelum perdana dibuka pada Jumat ini, sebanyak 916 petani dari 30 kelompok tani di seluruh Bali sudah digandeng memanfaatkan aplikasi itu.
Sedangkan untuk di Kabupaten Tabanan, Talasi dikatakan Dedy sudah mampu menyerap beberapa jenis hasil pertanian, seperti kopi, kakao, vanili, salak, madu, nira aren, cabai, anggur dan jeruk yang sedang proses penyerapan, serta produk pertanian lainnya.
"Dengan adanya aplikasi ini, kami harap mampu memberikan kepastian terkait harga dan sistem pembayaran kepada petani. Karena kami berkomitmen untuk membeli produk petani 5 persen lebih tinggi dari harga pasar," ungkapnya.
Baca Juga: Dua Jenazah Korban Kebakaran Kapal Tanker di Karangasem Bali Sulit Dikenali, Kondisinya…
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Tabanan Anak Agung Gede Dalem Trisna Ngurah mengharapkan aplikasi digital itu memangkas rantai distribusi dan memberi dampak positif kepada petani.
“Aplikasi ini sebagai solusi petani memasarkan produknya karena ini tidak ada perantara, langsung sehingga keuntungannya juga langsung dirasakan petani,” tambahnya. (gek)