Dilansir dari Website Sejarah Desa Banyupoh, dijelaskan nama "Banyupoh" dipercaya berasal dari kata "banyu" yang berarti air dan "poh" yang berarti tepi atau pinggir. Ini mungkin merujuk pada letak geografis desa yang berada di dekat sumber air atau sungai.
Nama Banyupoh berasal dari dua kata dalam bahasa Bali, yaitu "banyu" yang berarti air dan "poh" yang berarti buah atau biji.
Sejarah Desa Banyupoh dimulai dari pembukaan lahan baru oleh para pendatang pada sekitar tahun 1920. Awalnya, daerah ini merupakan hutan belantara yang kemudian dibuka oleh pekerja-pekerja perkebunan.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pendatang yang datang dan menetap di daerah ini.
Pada tahun 1958, daerah ini resmi dibagi-bagikan kepada para penduduk dan terbentuklah Desa Banyupoh.
Desa ini kemudian mengalami perkembangan pesat dan menjadi seperti yang kita lihat sekarang
Menurut legenda setempat, dahulu kala, desa ini terkenal dengan banyaknya mata air yang dianggap suci oleh penduduk setempat.
Mata air tersebut sering digunakan untuk upacara keagamaan dan juga sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat.
Desa Banyupoh tergolong sebagai desa anyar atau desa baru. Hal ini berarti desa ini terbentuk akibat perpindahan penduduk dari daerah lain.
Sebagian besar penduduk awal Desa Banyupoh berasal dari berbagai daerah di Bali, seperti Karangasem, Jembrana, Gianyar, dan Buleleng sendiri.
Selain itu, ada juga migrasi dari daerah Jawa Timur seperti Jember, Banyuwangi, dan Madura.
Sejarah Desa Banyupoh tak terpisahkan dari keberadaan Pura Agung Pulaki yang dipercaya sudah ada sejak abad ke-14.
Buku Dwi Jendra Tatwa menyebutkan bahwa wilayah ini pernah menjadi pusat kekuasaan spiritual dengan Pura Pulaki sebagai pusatnya.
Berbagai pura lain di sekitar wilayah ini seperti Melanting, Kertakawat, dan Pamuteran juga menunjukkan pentingnya wilayah ini dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Selain sebagai pusat spiritual, Pulaki juga diduga pernah menjadi pusat pemerintahan di wilayah Dauh Enjung.
Tempat suci umat Hindu ini merupakan salah satu pura tertua di Bali dan memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat sekitar.
Pulaki pernah menjadi pusat pemerintahan yang kuat di bawah kepemimpinan De Bendesa Pulaki dan keturunannya. Wilayah kekuasaan mereka sangat luas, mencakup Jembrana di barat hingga Tukad Saba di timur.
Letak Pulaki yang strategis dengan sumber air tawar yang melimpah membuatnya menjadi pusat perdagangan yang ramai, terutama untuk komoditas seperti gula aren.
Sejak awal terbentuknya, pertanian menjadi mata pencaharian utama masyarakat Desa Banyupoh. Komoditas pertanian yang dibudidayakan antara lain padi, palawija, dan buah-buahan.
Seiring berjalannya waktu, Desa Banyupoh mengalami perkembangan yang pesat, terutama dalam bidang infrastruktur dan sosial budaya.
Ekonomi Desa Banyupoh sebagian besar masih bergantung pada pertanian, perikanan, dan pariwisata.
Namun, dengan semakin berkembangnya sektor pariwisata di Bali Utara, banyak penduduk yang mulai terlibat dalam industri pariwisata, seperti menjadi pemandu wisata, menyediakan akomodasi, atau berjualan oleh-oleh khas Bali. (dik)
Editor : I Putu Mardika