BALIEXPRESS.ID - Masuknya uang kepeng (pis bolong) ke Bali tak lepas dari hubungan perdagangan antara Cina dengan Nusantara.
Kolektor pis bolong Dewa Putra Harthawan memaparkan, menurut data dan benda-benda purbakala yang ditemukan, terungkap bahwa dua ribu tahun sebelumnya telah terjalin hubungan antara Tiongkok dengan Nusantara yang dimulai dari Dinasti Han (206 SM – 220 M).
Cina telah membuka jalur lalu lintas dengan negara-negara di Asia Tenggara, India, Sri Langka, dan Nusantara seperti Sumatera, Jawa dan Bali.
Hubungan Cina dengan Bali teridentifikasi dari keberadaan uang kepeng dari masa Dinasti Han yang ditemukan di Bali. Hubungan terus berlanjut pada Dinasti Tang (618 M – 907 M).
Hubungan antara Bali dan Cina juga diketahui dari cerita-cerita rakyat (floklore) dan mitos yang berkembang di Bali.
Salah satu cerita yang berkembang di Bali adalah perkawinan antara raja Bali dengan seorang putri dari Cina.
Cerita rakyat versi Kong Yuanzhi yang dimuat dalam buku “Sam Po Kong dan Indonesia” menyebutkan rombongan Zheng He (Sam Po Kong) pernah singgah di Bali.
Salah satu juru masaknya bermarga Kang akhirnya memilih menetap di Kintamani karena kepincut dengan salah seorang gadis Bali.
Perkawinan mereka membuahkan keturunan seorang putri yang diberinama Kang Kim Hoa.
Saking cantiknya, sang putri dipersunting Raja Batur (Kintamani) sebagai permaisuri, dan nama kerajaan diganti menjadi Balikang (Balingkang) yang berasal dari kata “Bali” dan “Kang”.
Sedangkan sang ayah yang dianggap berjasa mengajarkan penduduk tentang tatacara bercocok tanam dan berdagang dihormati sebagai Ratu Ngurah Subandar. Setelah meninggal, dibuatkan klenteng di Pura Batur.
Dalam persinggahan di Bali, selain membawa tanaman kacang tanah, bawang putih dan leci yang kemudian dikembangkan di kawasan Batur dan sekitarnya, rombongan Zheng He juga memperkenalkan mata uang Cina (uang kepeng) dari masa pemerintahan Kaisar Yung Le (Dinasti Ming).
Banyaknya peredaran uang kepeng di Bali tak lepas dari kontak dagang antarpulau dan antanegara pada masa lampau, mengingat Bali memiliki kedudukan strategis sebagai jalur pelayaran.
Kontak dagang sudah terjadi sejak zaman Bali Kuna. Hal ini dikuatkan dengan bukti-bukti yang tertulis dalam prasasti pada masa Bali Kuna, di antaranya prasasti Bebetin berangka tahun 818 Caka, prasasti Sembiran berangka tahun 844 Caka dan 987 Caka.
Selanjutnya pada masa kerajaan Majapahit, kontak dagang antarnegara dan antarpulau lebih marak.
Para pedagang asing yang datang ke Majapahit berasal dari Campa, Khmer, Thailand, Birma, Srilanka dan Cina. Para pedagang ini membawa uang kepeng untuk ditukar dengan hasil bumi.
Pada masa itu, uang kepeng juga digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di Majapahit di samping uang emas dan perak.
Bali sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Majapahit tak terlepas dari hubungan tersebut sehingga uang kepeng Cina banyak masuk ke Bali.
Pada abad ke-19 perdagangan Bali dikuasai oleh orang-orang Cina dan Bugis.
Para pedagang Cina membawa candu, gambir, tekstil, uang kepeng, barang-barang dari besi, mesiu dan senjata api untuk ditukar dengan hasil bumi di Bali.
Kedatangan Mads Lange, pedagang dari Denmark ke Bali, juga memberi andil masuknya uang kepeng Cina ke Bali.
Apalagi setelah Mads Lange diangkat menjadi syahbandar di Kuta untuk mengatur kontak dagang dengan asing, mengakibatkan uang kepeng Cina makin banyak masuk ke Bali.
Kontak dagang pada masa Mads Lange sekitar tahun 1830-an, tidak hanya dengan pedagang asing, tetapi juga berbagai kerajaan di Nusantara (setelah runtuhnya Majapahit).
Hal ini mengakibatkan masuknya beragam uang kepeng dari berbagai negara dan kerajaan di Nusantara.
Tidak hanya dari Cina, tetapi juga dari Birma, Vietnam, Laos, Thailand, bahkan Jepang dan Korea. Sementara dari kerajaan di nusantara di antaranya dari Banten dan Pelembang.
Uang Cina yang teridentifikasi di antaranya berasal dari Dinasti Han (206 SM -220 M), Dinasti Tang (618 M – 907 M), Dinasti Song (960 M – 1279 M), Dinasti Yuan (1279 M – 1368 M), Dinasti Ming (1368 M – 1644 M), dan Dinasti Qing (1644 M - 1911 M).
Dari keseluruhan uang kepeng tersebut, uang kepeng yang mendominasi masuk ke Bali berasal dari Dinasti Ming yang disebut dengan Jongles (sebutan untuk kaisar yang berkuasa, bernama Young Le) yang berkuasa dari tahun 1403 M – 1425 M.
Uang kepeng dari Jepang yang ditemukan di Bali berasal dari daerah Byukyu pada masa kekaisaran Seiho Tsuo (1461 M), dan uang Kajiki dari Azuchi Momoyama (1573 M – 1603 M). Selanjutnya masa Shogun Tokugawa ( 1603 M-1868 M) dan Nagasaki.
Uang dari Vietnam yang ditemukan di Bali di antaranya dari Dinasti Dinh (968 M – 979 M), Dinasti Tran (1225 M – 1400 M), Dinasti Ho (1400 M – 1403 M), dan Le II (1428 – 1527 M), sedangkan dari Korea di antaranya berasal dari Dinasti Josean (1392 M), dan Dinasti Yi Do (1419 – 1451 M).
Di Bali juga ditemukan uang kepeng cetakan Majapahit. Uang kepeng Majapahit merupakan tiruan model uang kepeng Cina berbentuk bulat dan berlubang segi empat di dalamnya.
Hanya saja, tidak memakai huruf Cina, tetapi memakai gambar yang menyerupai relief-relief yang biasanya terdapat di dinding candi.
Mata uang Majapahit disebut dengan Gobog Majapahit, terbuat dari bahan perunggu dengan ukuran yang lebih besar dari uang kepeng Cina.
Uang kepeng buatan Majaphit ini bukanlah sebagai alat pembayaran, tetapi sebagai lencana, penghargaan dan symbol kebesaran yang dianugerahkan kepada abdi kerajaan.
Editor : Nyoman Suarna