Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Pura Ratu Malen Tabanan; Kerap Didatangi Pejabat Untuk Memohon Kewibawaan

IGA Kusuma Yoni • Rabu, 14 Agustus 2024 | 21:41 WIB

Pelinggih yang ada di Pura Batu Malen, yang masih satu areal dengan Pura Luhur Pekiyisan dipercaya sebagai tempat Pejabat Memohon Kewibawaan.
Pelinggih yang ada di Pura Batu Malen, yang masih satu areal dengan Pura Luhur Pekiyisan dipercaya sebagai tempat Pejabat Memohon Kewibawaan.

BALIEXPRESS.ID- Kabupaten Tabanan memiliki banyak pura yang tidak saja dikenal sebagai tempat memohon berkah kesuburan serta memohon jodoh.

Tapi ada juga pura yang dikenal sebagai tempat untuk memohon kewibawaan dan kebijaksanaan dan kerap didatangi pejabat.

Pura tersebut adalah Pura Ratu Malen yang berlokasi di Desa Babahan, Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan.

Baca Juga: Terseret Arus Saat Mancing, Pria 35 Tahun Hilang di Pantai Pasir Putih Karangasem

Pura yang berlokasi di pinggir Tukad (sungai) Yeh Ho bagian hulu ini, sejatinya masih merupakan bagian dari Pura Luhur Pekiyisan.

Jika dilihat dari penelusuran sejarahnya, Pura ini disebutkan Bendesa Adat Desa Babahan, Made Sukawana, memiliki nama yang cukup panjang, yakni Pura Luhut Pekiyisan, Beji Agung Sad Kahyangan Jagad Bali, Luhur Batukaru.

"Sesuai dengan namanya dan jika dilihat dari penelusuran sejarahnya sendiri, Pura ini masih merupakan bagian dari Pura Luhur Batukaru. pura Beji ini menjadi salah satu tempat pemelastian Ida Betara di Pura Batukaru," jelasnya.

Baca Juga: Tantangan Etika Media di Era Post-Truth: Kasus Pemberitaan Gregoria Mariska Tunjung dan Tanggung Jawab Sosial Pers

Aktivitas pemelastian di pura ini dilakukan 20 tahun sekali, biasanya pemelastian oleh Ida Betara di Batukaru dilakukan 20 tahun sekali, bergiliran dengan pemelastian di Pura Luhur Tanah Lot.

Terkait dengan Pura Ratu Malen, yang tepat berada di sisi barat Pelinggih utama Pura Luhur Pekiyisan ini juga merupakan pura yang sudah ada sejak jaman Megalitikum.

 Hal ini terlihat dari Pelinggih di Pura tersebut keseluruhannya terbuat dari bongkahan batu-batu besar yang disusun membentuk Pelinggih. 

"Berdasarkan penelusuran sejarah yang dilakukan, ditemukan batu-batu besar di pura ini berasal dari jaman megalitikum, sedangkan dari catatan yang ada, keberadaan pura ini diperkirakan sudah ada sejak abad keempat," ungkapnya.

Baca Juga: KOCAK! Ibu-ibu di Bali Nonton Gerak Jalan Sambil ‘Nyait’ Canang, Komentar Warganet Bikin Ngakak

Yang unik dari Pura Ratu Malen ini, disebutkan Sukawana, adalah kepercayaan masyarakat terhadap pura ini.

Dimana banyak masyarakat yang meyakini, jika pura ini sering didatangi oleh pejabat baik dari tingkat Kabupaten bahkan hingga tingkat Pemerintahan Pusat yang berkantor di Jakarta untuk memohon kebijaksanaan. 

"Untuk Pura Ratu Malen ini, dikenal sebagai tempat untuk memohon kebijaksanaan, karena perwujudan tokoh Malen itu sendiri adalah tokoh yang bijaksana, sehingga pada hari-hari tertentu seperti Purnama, Tilem kajeng Kliwon dan lain sebagainya pasti ada saja yang Tangkil ke pura ini, untuk memohon kebijaksanaan," ungkapnya.

Untuk sarana persembahyangan yang dibawa dalam ritual ini, Sarkayasa menyebutkan tidak ada sarana khusus, biasanya pemedek yang datang ke pura ini membawa sarana persembahyangan berupa pejati dan canang. 

Baca Juga: Tak Hanya KDRT, Cut Intan Nabila Juga Jadi Korban Perselingkuhan Suami

Selain itu, dikatakannya pura ini juga tidak memiliki pantangan apapun, sehingga selain pejati pemedek juga bisa membawa sarana persembahyangan lainnya, seperti sodaan ataupun canang rarapan. 

"Disini tidak ada pantangan apapun, siapapun boleh datang kemari untuk bersembahyang, untuk pejabat yang datang cukup banyak, mulai dari tingkat kabupaten sampai pejabat pusat juga pernah datang kemari, bahkan ada yang rutin datang dan menghaturkan Punia," tambahnya. (gek)

 

Editor : Wiwin Meliana
#Kewibawaan #Pura Ratu Malen #sejarah #tabanan #pejabat