Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Munggu: Dibangun Atas Perintah Cokorda Agung Blambangan, Erat Kaitannya dengan Tradisi Makotek

Putu Resa Kertawedangga • Rabu, 14 Agustus 2024 | 22:35 WIB
MUNGGU: Tradisi Makotek yang digelar setiap Hari Raya Kuningan, terkait dengan perayaan kemenangan Cokorda Agung Blambangan dan sejarah Desa Munggu.
MUNGGU: Tradisi Makotek yang digelar setiap Hari Raya Kuningan, terkait dengan perayaan kemenangan Cokorda Agung Blambangan dan sejarah Desa Munggu.

BALIEXPRESS.ID - Desa Munggu di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali memiliki tradisi Makotek yang digelar setiap Hari Raya Kuningan.

Tradisi ini erat kaitannya dengan sejarah Desa Munggu, yaitu sebuah perayaan kemenangan Kerajaan Mengwi dalam pertempuran.

Sebab Desa Munggu ini memang berada di bawah kepemimpinan Kerajaan Mengwi.

 Baca Juga: Pantai Kuta Mandalika makin Mendunia: Tawarkan Sensasi Pasir Putih seperti Tepung, Jadi Contoh Sempurna Keindahan Alam Indonesia

Berdasarkan data yang tertulis di website resmi desa tersebut, tidak ada catatan khusus terkait prasasti, lontar, babad maupun tulisan lainnya yang mencatat sejarahnya.

Yang pasti, desa yang berada di selatan Mengwi ini memang ada kaitannya dengan Kerajaan Mengwi.

Sejarah Desa Munggu berawal dari pemerintahan I Gusti Agung Putu.

Setelah naik tahta sebagai Raja Mengwi, diberi gelar Cokorda Agung Bhima Cakti yang juga dikenal dengan nama Cokorda Agung Blambangan.

Beliau memiliki seorang permaisuri bernama Ni Gusti Luh Alangkajeng.

Dari pernikahan tersebut dianugerahi tiga keturunan, yakni Ni Gusti Ayu Putu Alangkajeng, I Gusti Agung Made Alangkajeng, dan I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng.

Diceritakan, dalam masa pemerintahan Cokorda Agung Bhima Cakti, ada sebuah pemukiman di wilayah hutan beraban.

Wilayah tersebut masih merupakan kekuasaan Kerajaan Mengwi, dengan pimpinan dari pemukiman itu adalah Ki Pasek Gelgel Sumerta.

Guna menjamin keselamatan penduduknya, Ki Pasek Gelgel Sumerta memohon kepada raja agar mengayomi dan melindungi mereka.

Raja Mengwi pun menyanggupi hal tersebut dengan mengutus putra bungsunya, I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng sebagai perwakilan untuk bertahta di alas Beraban.

Beliau datang ke tempat tersebut tidak sendiri, melainkan didampinggi oleh 500 orang prajurit.

Kemudian dibangunlah istana yang berlokasi disebelah barat laut sumber mata air.

Istana dan kerajaan itu pun diberi nama Kerajaan Munggu, dengan pemimpin yang I Gusti Agung Nyoman Alangkajeng.

Lantas sang raja juga mendapatkan julukan baru yakni, I Gusti Agung Nyoman Munggu.

Seiring berjalannya waktu, pemukiman di alas Beraban semakin berkembang hingga banyak yang datang untuk tinggal.

Pemukiman kemudian terus berkembang sehingga menjadi desa dengan nama Desa Munggu.

Kata munggu diambil dari istilah amunggu atau alungguh yang berarti menempati, berkedudukan, bertempat tinggal.

Sehingga dapat diartikan, di tempat itu (Hutan Beraban) beliau bertempat tinggal dan dinobatkan sebagai raja.

Editor : Nyoman Suarna
#Makotek #Desa Munggu #sejarah #tradisi #Cokorda Agung Blambangan