Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Pura Keraban Langit: Diungkap Prasasti Sading, Bermula dari Titah Raja Udayana hingga Kelahiran Sri Masula Masuli

IGA Kusuma Yoni • Kamis, 15 Agustus 2024 | 01:57 WIB
TIRTHA SELAKA: Pura Kereban Langit di Desa Sading, Sempidi, Mengwi Badung terkait dengan sejarah Raja Udayana untuk menemukan Tirtha Selaka
TIRTHA SELAKA: Pura Kereban Langit di Desa Sading, Sempidi, Mengwi Badung terkait dengan sejarah Raja Udayana untuk menemukan Tirtha Selaka

BALIEXPRESS.ID- Pura Keraban Langit yang berlokasi di Desa Adat Sading, Kelurahan Sempidi Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung, tak terlepas dari sejarah Raja Udayana.

Pemangku Pura Keraban Langit, Mangku Jro  Ketut Witera beberapa waktu lalu menjelaskan, Pura Kereban Langit memiliki sejarah yang sangat panjang. Pura ini sudah ada sejak tahun 1001 Masehi.

"Jika dilihat dari sejarahnya, dalam prasasti Sading dengan angka tahun Isaka 923 atau tahun 1001 Masehi, pura ini tercatat sebagai salah satu tempat suci penting pada masa pemerintahan Kerajaan Udayana," jelasnya.

Papar Witera, sejarah Pura Keraban Langit terkait dengan  proses kelahiran putra kembar dari Raja Udayana.

Sebelum Sri Masula dan Sri Masuli terlahir ke dunia, ayahnya memohon kehadapan Bhatara di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) agar sang permaisuri segera melahirkan.

Atas petunjuk Bhatara di Gunung Tohlangkir, Raja Udayana disuru mencari Tirtha Selaka.

Untuk itu, diutuslah seorang Brahmana bersama iringannya menelusuri Pulau Bali untuk memperoleh Tirtha Selaka.

Singkat cerita, Brahmana tersebut tiba di Desa Sading, tepatnya di lokasi Pura Keraban Langit.

Brahmana tersebut bertemu seorang penjahat yang sedang dikejar-kejar oleh masyarakat Desa Sading.

Ketika bertemu di dalam goa, penjahat tersebut ketakutan karena Brahmana itu disangka akan membunuhnya.

Namun Brahmana tersebut menjelaskan bahwa tujuannya datang untuk mencari Tirta Selaka atas perintah Ida Dalem Udayana.

"Mendengar hal itu, akhirnya si penjahat menunjukkan jika di dalam goa ada tirta yang disebut dengan Tirtha Selaka,” lanjutnya.

Setelah mendapat informasi tersebut, sang Brahmana langsung mengambil Tirtha Selaka dan membawanya ke kerajaan untuk diberikan kepada sang Permaisuri.

Tak berselang lama sang permaisuri hamil dan melahirkan bayi kembar buncing yang diberi nama Sri Masula dan Sri Masuli.

Setelah kelahiran sepasang putra kembar, Raja Udayana menjadikan Pura Keraban Langit sebagai salah satu pura penting dalam tatanan pemerintahan Kerajaan Udayana.

Hingga akhirnya pada tahun 1634 setelah terbentuknya kerajaan Mengwi di bawah pimpinan  I Gusti Agung Putu yang mabhiseka Raja Cokorda Sakti Blambangan, wilayah Desa Sading menjadi kekuasaan Raja Mengwi.

Termasuk juga Pura Kereban Langit menjadi bagian dari pura yang diusung (dipuja) oleh keluarga Puri Mengwi.

Untuk pengawasannya, diserahkan kepada pihak Puri Sading bersama masyarakatnya.

Piodalan di Pura Keraban Langit ini jatuh pada Hari Rabu Wage Wuku Ukir.

Selama ini, diakui Witera, upacara piodalan dihaturkan oleh pemangku dengan biaya bersumber dari dana pemangku. Dengan tingkatan upacara yang sederhana, yakni berupa sesayut Pengambean.

Untuk pemilihan pemangku di pura yang termasuk Pura Dang Kahyangan ini berdasarkan pada garis keturunan yang sudah berlangsung sejak jaman dahulu.

 “Untuk pemangku, ditunjukan berdasarkan garis keturunan,” tambahnya.

Editor : Nyoman Suarna
#pura keraban langit #sading #raja udayana #prasasti #Sri Masula