BALIEXPRESS.ID - Masuknya agama Islam ke Bali tidak lepas dari sejarah perkembangan Islam di Jawa mulai tahun 1416 yang disebarluaskan oleh mubaliq dari Malaka, Persia dan Gujarat.
Sedangkan penyebaran Islam ke Bali terjadi pasca ekspedisi Gajah Mada dan zaman pemerintahan Raja Dalem Waturenggong.
Ekspedisi Gajah Mada tahun 1343 berdampak besar terhadap perubahan bidang social dan politik di Bali yang masih bersifat tradisional.
Beberapa tradisi besar Majapahit yang berbau Hinduistis terintegrasi ke dalam tradisi masyarakat Bali sehingga terjadi akulturasi sosio cultural.
Dalam bidang politik misalnya, kendali dan sistem pemerintahan di Bali dipegang oleh raja yang ditugaskan oleh Kerajaan Majapahit.
Keturunan dari Kresna Kapakisan (Jawa) diangkat menjadi raja untuk mengisi kekosongan kepemimpinan dan mengendalikan pemberontakan orang-orang Bali aga yang masih setia terhadap rajanya pasca perang.
Penobatan Raja Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan di Bali bersamaan pengangkatan tiga saudaranya sebagai raja bawahan Majapahit yang ditugaskan di beberapa wilayah kekuasaan Majapahit.
Saudara yang tertua dijadikan raja di Pasuruan, yang kedua ditugaskan di Blambangan, sedangkan yang ketiga seorang wanita bernama Sukania atau I Dewa Muter ditugaskan di Sumbawa.
Namun situasi Bali paska ekspedisi Gajah Mada dan penobatan Raja Sri Kresna Kepakisan sampai tahun 1380 belumlah stabil.
Masih terjadi pertentangan antara penduduk asli Bali dengan penguasa baru.
Untuk menghindari konflik, beberapa kali dikirim bantuan dari Majapahit berupa tentara, benda-benda pusaka sebagai bentuk legitimasi penguasa baru.
Mengendalikan roda pemerintahan di Bali, Raja Dalem Ketut Sri Kresna Kapakisan dibantu para arya dari Majapahit, di antaranya Arya Kenceng, Arya Kanuruhan, Arya Belog, Arya Manguri, Arya Delancang, Arya Pengalasan, Arya Wangbang, Arya Kutawandira, Tan Kober, Tanmundur dan Tankaur.
Dikutif dari buku berjudul "Islam di Bali, Sejarah Masuknya Agama Islam ke Bali" yang digandakan Bidang Bimas Islam dan Penyelenggara Haji, Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Bali menyebutkan, beberapa sumber sejarah mencatat bahwa penyebaran agama Islam di Bali sudah dilakukan pada zaman ini melalui Ratu Dewi Fatimah.
Konon, tak lama setelah Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan diangkat menjadi raja, datanglah Ratu Dewi Fatimah dari Majapahit yang sudah menjadi muslimah.
Selain sebagai saudara sepupu, Dewi Fatimah juga kekasih Raja Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan sewaktu di Majapahit.
Tujuan Dewi Fatimah menemui Raja Dalem Ketut adalah untuk mengajaknya memeluk agama Islam.
Dewi Fatimah bersedia menjadi istri Raja Dalem Ketut asalkan ia mau menjadi muslim dan mendirikan kerajaan Islam.
Namun keinginan Dewi Fatimah ditolak, kemudian ia kembali ke Loloan. Ketika Ratu Fatimah meninggal, para pengikutnya kembali ke Klungkung.
Editor : Nyoman Suarna