Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Desa Pengastulan: Dahulu Bernama Muntis, Pura Gede Pusat Ritual di Pura Gede

I Putu Mardika • Jumat, 16 Agustus 2024 | 04:30 WIB

Pura Gede Pengastulan Kecamatan Seririt yang menjadi pusat ritual masyarakat Pengastulan sejak dahulu
Pura Gede Pengastulan Kecamatan Seririt yang menjadi pusat ritual masyarakat Pengastulan sejak dahulu
BALIEXPRESS.ID-Desa Pengastulan,jarah Desa Pengastul Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng memiliki sejarah yang panjang. Desa yang berada di hilir Sungai Saba ini tergolong sebagai desa heterogen karena tidak hanya dihuni oleh umat Hindu saja, tetapi juga Umat Muslim.

Berdasarkan dari berbagai refrensi menyebutkan nama Pengastulan sendiri berasal dari kata "Astula," yang dalam bahasa Bali kuno berarti sesuatu yang dihargai atau dihormati.

Desa ini merupakan salah satu desa tua di Kabupaten Buleleng yang memiliki akar sejarah dan budaya yang mendalam. Adanya prasasti yang ditulis dengan aksara Bali di atas lontar menjadi bukti sejarah berdirinya Desa Pengastulan. Prasasti tersebut menyebutkan bahwa desa ini didirikan pada tahun 1381 Saka.

Pengastulan memiliki hubungan erat dengan kerajaan-kerajaan Bali di masa lalu, terutama dengan Kerajaan Buleleng. Pada masa kerajaan, desa ini sering menjadi pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan, serta memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat sekitarnya.

Sebelum menjadi Desa Pengastulan, wilayah ini dikenal sebagai Desa Muntis. Desa Muntis merupakan cikal bakal dari tiga desa, yaitu Pengastulan, Bubunan, dan Sulanyah.

Sejarah Desa Adat Pengastulan secara historis dan geografis dulunya adalah merupakan Desa Muntis. Desa ini diperkirakan sudah ada sekitar abad XIV pada masa pemerintahan Dinasti Dalem Kresna Kepakisan.

Baca Juga: Keunikan dan Sejarah Pura Dang Kahyangan Prapat Agung, Saksi Peradaban Awal Bali: Ada Telaga Warna Warni

Desa ini dipimpin oleh seorang Bandesa, sebagaimana kebijakanatau Bisama dari Ida Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan.

Desa Muntis adalah tergolong Desa Apanaga, yaitu desa yang mengikuti sistem kemasyarakatan Majapahit dimana masyarakatnya hetrogen yang terdiri dari berbagai soroh.

Penduduk Desa Muntis berasal dari berbagai daerah, letak Desa Muntis disebelah selatan hulu dari Pelinggih Batara Agung Ngurah Angkeran yang berstana di Pura Gede.

Kemudian ada Pemekaran Desa Muntis Menjadi Desa Bangsing Kayu, yang kini menjadi Desa Bubunan, Desa Sure Lengke, yang kini menjadi Desa Sulanyah, Desa Muntis yang kini Menjadi Desa Pengastulan.

Kemudian disebut dengan sebutan Bale Agung Tunggal untuk ketiga Desa tersebut. Kemudian Bandesa Pengastulan membentuk Banjar Purwa, Banjar Sari, Banjar Pahala, dan bagi warga masyarakat muslim yang datang dari berbagai daerah seperti Sulawesi, Jawa Timur, disebut dengan Banjar Kauman.

Pusat pemujaan di Desa Muntis adalah Pura Gede. Pura ini menjadi titik pusat perhatian dan pemukiman penduduk.

Sebelumnya, penduduk yang berprofesi sebagai nelayan mengungsi ke arah utara dan mendirikan pemukiman di sekitar Pura Gede. Karena pura tersebut merupakan tempat pemujaan atau pengastawaan, maka nama desa pun disebut Desa Pengastulan.

Baca Juga: Dua Versi Sejarah Desa Tumbak Bayuh di Bali: Keduanya Berkaitan dengan Tombak?

Desa Pengastulan berkembang pesat karena tanah di sekitarnya sangat subur dan diairi oleh Sungai Saba yang tidak pernah kering

Banyak pedagang, termasuk pedagang Cina, datang ke desa ini. Mereka membawa berbagai barang dagangan dan budaya baru.

Pura Gede menjadi pusat kegiatan masyarakat, baik untuk upacara keagamaan maupun kegiatan sosial.

Desa Pengastulan terbagi menjadi empat banjar, yaitu Banjar Sari, Banjar Pala, Banjar Purwa, dan Banjar Kauman. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #Pura Gede #seririt #sejarah #Desa Pengastulan #buleleng